Anak Krakatau Masih Berpotensi Erupsi Meski Intensitas Permukaan Menurun

- Jurnalis

Sabtu, 12 September 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Aktivitas Gunung Anak Krakatau masih dipantau Badan Geologi setelah intensitas erupsi permukaan menurun. Status gunung api tetap Level III atau Siaga. (foto: kementerian esdm)

Aktivitas Gunung Anak Krakatau masih dipantau Badan Geologi setelah intensitas erupsi permukaan menurun. Status gunung api tetap Level III atau Siaga. (foto: kementerian esdm)

Sisipublik.com – Anak Krakatau masih menyimpan potensi erupsi meskipun intensitas aktivitas di permukaan mulai menurun setelah episode erupsi menerus pada 4–6 September 2026. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat aktivitas gunung api itu kini beralih ke erupsi Strombolian.

Berdasarkan evaluasi hingga Jumat, 11 September 2026 pukul 06.00 WIB, Badan Geologi tetap menetapkan status Gunung Anak Krakatau pada Level III atau Siaga. Perubahan pola erupsi belum menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik telah berakhir.

Setelah episode erupsi menerus selama sekitar 25 jam berakhir, Anak Krakatau tercatat mengalami 14 kali erupsi Strombolian. Pola ini menunjukkan aktivitas permukaan yang lebih rendah, tetapi pemantauan kegempaan masih menemukan indikator pergerakan magma dari bagian dalam gunung.

Anak Krakatau Masih Dipengaruhi Aktivitas Magma Dalam

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria menjelaskan bahwa gempa frekuensi rendah serta gempa hybrid atau fase banyak mengalami fluktuasi dengan kecenderungan menurun. Namun, gempa vulkanik justru meningkat dibandingkan rata-rata rekaman sebelumnya.

Baca Juga :  ETLE HUB Perkuat Pengawasan Angkutan Barang Menuju Zero ODOL

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena peningkatan gempa vulkanik dalam mengindikasikan pergerakan atau suplai magma dari bagian yang lebih dalam. Karena itu, potensi erupsi kembali masih tinggi walaupun aktivitas erupsi di permukaan mulai melemah.

Erupsi Strombolian sendiri ditandai letupan berkala akibat pelepasan gas dari magma. Aktivitas tersebut dapat melontarkan material pijar dan abu vulkanik di sekitar kawah.

Pemantauan Gunung Api Tetap Berlangsung

Badan Geologi terus memantau perkembangan Gunung Anak Krakatau melalui peralatan yang masih berfungsi, pengamatan visual, serta berbagai parameter kegunungapian. Sebagian peralatan pemantauan terdampak aktivitas erupsi, tetapi kondisi tersebut tidak menghentikan pengamatan.

Lana mengatakan petugas terus menerima dan menganalisis data dari peralatan yang masih beroperasi sebagai dasar evaluasi aktivitas gunung api dan penyusunan rekomendasi.

Selain itu, Badan Geologi menyiapkan pemeriksaan, perbaikan, dan penggantian perangkat yang terdampak. Petugas mempertimbangkan kondisi aktivitas gunung, cuaca, serta faktor keselamatan sebelum melakukan pekerjaan di lapangan.

Baca Juga :  Bansos PKH BPNT Triwulan 3 Mulai 20 Juli, Kemensos Rampungkan Pembaruan Data Penerima

Radius 3 Kilometer Masih Berlaku

Dengan status Level III, Badan Geologi meminta masyarakat, wisatawan, nelayan, serta pelaku pelayaran tidak mendekati atau melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau.

Potensi bahaya mencakup lontaran material pijar, abu vulkanik, dan kemungkinan awan panas di sekitar tubuh gunung. Oleh karena itu, masyarakat perlu mengikuti batas aman dan informasi resmi pemerintah.

Sementara itu, warga yang terdampak hujan abu dianjurkan menggunakan masker, melindungi mata, menutup sumber air bersih, serta mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika paparan abu meningkat.

Badan Geologi mengingatkan bahwa penurunan intensitas erupsi permukaan tidak otomatis menandakan aktivitas Gunung Anak Krakatau telah berhenti. Masyarakat diminta tetap tenang, tidak mendekati kawasan terlarang, dan mengikuti perkembangan informasi melalui kanal resmi Badan Geologi serta MAGMA Indonesia.

Berita Terkait

IYS 2026 Dorong Anak Muda Terlibat Mencari Solusi bagi Masa Depan Indonesia
Kolaborasi Kemenpora-Kemnaker Perluas Peluang Kerja dan Magang bagi Pemuda
Produktivitas Tebu Kediri Jadi Fokus, Kementan dan SGN Siapkan 1.000 Pompa Air
Sekolah Rakyat Jangkau 44 Ribu Anak, Kemensos Padukan Pendidikan dan Pemulihan Sosial
Populasi Banteng Jawa di Pangandaran Bertambah Jadi Tujuh Ekor, Reintroduksi Catat Kelahiran Ketiga
Pelatihan Kerja Anak Muda Jadi Fokus Kemnaker untuk Perluas Kesempatan Kerja
Visi Kota 2045: Ossy Dermawan Dorong Arsitek Perkuat Ruang Hijau dan Konektivitas Kota
Sekolah Rakyat Serap 97 Ribu Pekerja Lokal, Akses Pendidikan Diperluas di 32 Provinsi
Berita ini 16 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 07:00 WIB

IYS 2026 Dorong Anak Muda Terlibat Mencari Solusi bagi Masa Depan Indonesia

Jumat, 30 Oktober 2026 - 06:00 WIB

Kolaborasi Kemenpora-Kemnaker Perluas Peluang Kerja dan Magang bagi Pemuda

Kamis, 29 Oktober 2026 - 13:00 WIB

Produktivitas Tebu Kediri Jadi Fokus, Kementan dan SGN Siapkan 1.000 Pompa Air

Kamis, 29 Oktober 2026 - 10:49 WIB

Sekolah Rakyat Jangkau 44 Ribu Anak, Kemensos Padukan Pendidikan dan Pemulihan Sosial

Kamis, 29 Oktober 2026 - 06:00 WIB

Pelatihan Kerja Anak Muda Jadi Fokus Kemnaker untuk Perluas Kesempatan Kerja

Berita Terbaru