Pengendalian Tikus Sawah Dimulai Sebelum Populasi Melonjak, BRIN Kenalkan Strategi Terpadu di Klaten

- Jurnalis

Minggu, 6 September 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

BRIN bersama Pemerintah Kabupaten Klaten mendorong pengendalian tikus sawah secara terpadu melalui pengelolaan habitat, perangkap, musuh alami, dan tindakan kolektif (foto: brin)

BRIN bersama Pemerintah Kabupaten Klaten mendorong pengendalian tikus sawah secara terpadu melalui pengelolaan habitat, perangkap, musuh alami, dan tindakan kolektif (foto: brin)

Sisipublik.com – Pengendalian tikus sawah perlu dimulai sebelum populasi hama berkembang pesat. Pendekatan tersebut menjadi perhatian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Pemerintah Kabupaten Klaten melalui penerapan Pengendalian Hama Tikus Terpadu (PHTT).

Tikus sawah (Rattus argentiventer) menjadi salah satu hama penting pada tanaman padi. Serangannya dapat menurunkan hasil panen dan mengganggu berbagai agroekosistem. Karena itu, strategi pengendalian tidak cukup hanya mengandalkan tindakan ketika kerusakan sudah terlihat.

Peneliti Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, Arlyna Budi Pustika, menjelaskan bahwa pengendalian tikus sawah perlu mempertimbangkan dinamika populasi. Faktor seperti ketersediaan pakan, habitat, perkembangbiakan, serta pergerakan tikus menjadi dasar dalam menentukan tindakan di lapangan.

Pengendalian Tikus Sawah Perlu Dimulai Lebih Awal

Arlyna menyampaikan pandangan tersebut dalam workshop PHTT di Desa Sidowayah, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, Kamis (3/9). Menurut dia, karakter reproduksi tikus yang cepat membuat tindakan pencegahan perlu berlangsung sebelum populasi meningkat.

Tikus mulai berkembang biak menjelang tanaman padi memasuki fase anakan maksimum. Dalam satu musim tanam, tikus juga dapat mengalami beberapa kali kelahiran. Kondisi itu membuat keterlambatan pengendalian berpotensi memperbesar tekanan terhadap tanaman.

Karena itu, BRIN mendorong pengendalian yang berlangsung sejak awal musim dan dilakukan secara berkelanjutan. Strateginya tidak hanya berfokus pada penangkapan, tetapi juga mencakup pengelolaan lingkungan dan pengaturan kegiatan budidaya.

BRIN Dorong Kombinasi Metode di Lahan Padi

Dalam kegiatan tersebut, periset memperkenalkan PHTT yang menggabungkan sejumlah metode. Pendekatan itu mencakup pengelolaan habitat, tanam dan panen serempak, pemanfaatan musuh alami, serta pengendalian tertarget.

Baca Juga :  Cara Cek WiFi Rumah Dipakai Orang Lain dan Memblokir Perangkat Asing

Salah satu metode yang diperkenalkan ialah Trap Barrier System (TBS). Sistem tersebut memadukan penghalang dengan perangkap untuk mengarahkan pergerakan tikus menuju lokasi penangkapan.

Data penerapan TBS di Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman, menunjukkan perbedaan tingkat serangan pada lahan dengan dan tanpa sistem tersebut. Data tahun 2020 mencatat serangan tikus sebesar 39,5 persen pada area dengan TBS, sedangkan area tanpa TBS mencapai 51 persen.

Produktivitas padi pada area yang menggunakan TBS juga tercatat 6,28 ton per hektare. Sementara itu, area tanpa TBS menghasilkan 5,42 ton per hektare. Angka tersebut merupakan hasil pengamatan pada lokasi dan periode yang disebutkan dalam materi workshop, sehingga tidak dapat dianggap sebagai hasil yang otomatis berlaku pada semua lahan.

Selain TBS, periset memperkenalkan pengendalian secara kolektif melalui kegiatan gropyokan. Kegiatan tersebut dapat dilakukan sejak fase bera hingga menjelang masa tanam.

Dalam salah satu contoh yang dipaparkan, kegiatan selama empat minggu menangkap 1.962 ekor tikus. Pelaksanaannya melibatkan pemangku kepentingan mulai dari tingkat desa hingga kabupaten.

BRIN juga mengenalkan metode mikrofumigasi yang diarahkan pada liang tikus. Metode tersebut menjadi salah satu pilihan pengendalian tertarget dan perlu ditempatkan sebagai bagian dari sistem pengendalian yang lebih luas.

Pengendalian Berbasis Ekologi Libatkan Petani dan Pemerintah Daerah

Arlyna menekankan pentingnya integrasi berbagai metode dalam PHTT. Pengelolaan habitat, tanam dan panen serempak, musuh alami, TBS, serta pengendalian tertarget perlu saling melengkapi.

Baca Juga :  Produksi Padi Januari-Agustus 2026 Tetap Tumbuh, Mitigasi Air Jadi Tantangan Berikutnya

Pendekatan tersebut juga mencakup pengendalian aktif, pemanfaatan predator seperti burung hantu (Tyto alba), sanitasi lingkungan, dan pemasangan Linear Trap Barrier System (LTBS).

Penerapan setiap metode perlu menyesuaikan kondisi setempat. Selain itu, koordinasi antarpihak menjadi faktor penting agar tindakan pengendalian dapat menyasar pergerakan dan perkembangan populasi tikus secara lebih efektif.

Workshop tersebut juga membahas aspek sosial dan kelembagaan. Lilis Mulyani dari Pusat Riset Masyarakat dan Budaya BRIN memberikan perspektif mengenai hukum dan kebijakan agraria.

Sementara itu, Gutomo Bayu Aji dari Pusat Riset Kependudukan BRIN membahas rekayasa sosial dan kelembagaan desa. Perspektif tersebut memperlihatkan bahwa pengendalian hama tidak hanya berkaitan dengan teknologi pertanian.

Bayu menilai peneliti, pemerintah daerah, kelembagaan desa, petani, dan penyuluh perlu bekerja bersama. Kolaborasi tersebut membantu menerjemahkan pengetahuan berbasis riset menjadi tindakan yang sesuai dengan kondisi lokal.

Kegiatan BRIN dan Pemerintah Kabupaten Klaten merupakan tindak lanjut Nota Kesepakatan Strategis mengenai Sistem Pertanian Pangan Berkelanjutan. Melalui kerja sama tersebut, pengendalian tikus diharapkan dapat berjalan lebih terencana dan mendukung produktivitas padi di wilayah Polanharjo.

Dengan demikian, pengendalian tikus sawah tidak berhenti pada penanganan ketika serangan muncul. Pencegahan sejak dini, pengelolaan habitat, pengaturan pola tanam, pemanfaatan musuh alami, serta tindakan kolektif menjadi bagian dari strategi untuk menjaga populasi tikus tetap terkendali.

Berita Terkait

Konservasi Lahan Miring Jadi Kunci BRIN Jaga Produktivitas Kunyit di Tengah Perubahan Iklim
Radio HF Jadi Andalan Komunikasi Darurat saat Jaringan Seluler dan Satelit Terganggu
Biochar Selaparang Ubah Limbah Jagung Menjadi Penyubur Tanah
Daur Ulang Limbah Panel Surya, BRIN Kembangkan Teknologi Pemulihan Silikon
Cek Garansi iPhone Sebelum Membeli, Ini Cara Memastikan Status Perlindungannya
Cara Cek WiFi Rumah Dipakai Orang Lain dan Memblokir Perangkat Asing
Teknologi PVT BRIN Manfaatkan Panas Panel Surya untuk Pengeringan Hasil Panen
Biogas dari Kotoran Sapi Bantu Warga Manokwari Selatan Atasi Kelangkaan Minyak Tanah
Berita ini 18 kali dibaca
Tag :

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 25 Oktober 2026 - 09:00 WIB

Konservasi Lahan Miring Jadi Kunci BRIN Jaga Produktivitas Kunyit di Tengah Perubahan Iklim

Minggu, 25 Oktober 2026 - 07:00 WIB

Radio HF Jadi Andalan Komunikasi Darurat saat Jaringan Seluler dan Satelit Terganggu

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 16:45 WIB

Biochar Selaparang Ubah Limbah Jagung Menjadi Penyubur Tanah

Selasa, 20 Oktober 2026 - 18:48 WIB

Daur Ulang Limbah Panel Surya, BRIN Kembangkan Teknologi Pemulihan Silikon

Selasa, 20 Oktober 2026 - 06:00 WIB

Cek Garansi iPhone Sebelum Membeli, Ini Cara Memastikan Status Perlindungannya

Berita Terbaru