Sisipublik.com – Ekonomi Jawa Timur semester I 2026 mencatat pertumbuhan sebesar 5,84 persen secara kumulatif atau cumulative to cumulative (c-to-c). Angka tersebut melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,45 persen pada periode yang sama.
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur mencatat Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) berdasarkan harga berlaku mencapai Rp930 triliun. Sementara itu, PDRB berdasarkan harga konstan 2010 mencapai Rp538,59 triliun.
Ekonomi Jawa Timur semester I 2026 juga menunjukkan perkembangan positif di hampir seluruh lapangan usaha. BPS mencatat hanya sektor pertambangan dan penggalian yang mengalami penurunan pada periode tersebut.
Pelaksana Tugas Kepala BPS Provinsi Jawa Timur Herum Fajarwati menyampaikan data tersebut pada Rabu, 5 Agustus 2026. Menurutnya, aktivitas ekonomi di berbagai sektor terus memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan Jawa Timur.
Ekonomi Jawa Timur Semester I 2026 Didorong Berbagai Lapangan Usaha
Berdasarkan kategori lapangan usaha, sektor pertambangan dan penggalian mengalami koreksi sebesar 4,71 persen. Namun, sektor lain mampu mencatat pertumbuhan yang cukup kuat.
Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 10,76 persen. Pertumbuhan tersebut menunjukkan peningkatan aktivitas masyarakat pada sektor jasa dan konsumsi.
Selanjutnya, sektor jasa lainnya tumbuh sebesar 10,04 persen. Kemudian, sektor konstruksi mencatat pertumbuhan 7,78 persen.
Sektor informasi dan komunikasi juga menunjukkan kinerja positif dengan pertumbuhan sebesar 7,29 persen. Dengan demikian, sejumlah sektor utama mampu menopang laju ekonomi Jawa Timur sepanjang semester pertama 2026.
Selain melihat lapangan usaha, BPS juga mencatat pertumbuhan ekonomi berdasarkan komponen pengeluaran. Data tersebut memperlihatkan peningkatan aktivitas dari pemerintah, masyarakat, hingga dunia usaha.
Konsumsi Pemerintah Jadi Penggerak Utama Pertumbuhan
Komponen pengeluaran konsumsi pemerintah (PK-P) mencatat pertumbuhan paling tinggi. Komponen tersebut tumbuh sebesar 19,80 persen pada semester I/2026.
Setelah itu, pengeluaran konsumsi lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga (PK-LNPRT) tumbuh sebesar 9,01 persen. Sementara itu, pembentukan modal tetap domestik bruto (PMTB) mencatat pertumbuhan sebesar 8,20 persen.
Pengeluaran konsumsi rumah tangga (PK-RT) juga terus menguat dengan pertumbuhan sebesar 5,74 persen. Selanjutnya, ekspor barang dan jasa tumbuh sebesar 3,68 persen.
Di sisi lain, impor barang dan jasa tumbuh sebesar 5,57 persen. Dalam perhitungan PDRB, komponen impor menjadi faktor pengurang.
Jawa Timur Pimpin Pertumbuhan Ekonomi di Pulau Jawa
Secara spasial, struktur ekonomi Pulau Jawa pada triwulan II/2026 masih menunjukkan dominasi beberapa provinsi utama. DKI Jakarta memberikan kontribusi terbesar terhadap PDRB Pulau Jawa dengan porsi 28,89 persen.
Jawa Timur berada di posisi berikutnya dengan kontribusi sebesar 25,40 persen. Setelah itu, Jawa Barat menyumbang 22,77 persen, sedangkan Jawa Tengah memberikan kontribusi 14,50 persen.
Kemudian, Banten menyumbang 6,91 persen dan Daerah Istimewa Yogyakarta sebesar 1,52 persen. Komposisi tersebut memperlihatkan besarnya peran Jawa Timur dalam perekonomian Pulau Jawa.
Lebih lanjut, Herum menjelaskan bahwa kondisi ekonomi Pulau Jawa secara umum masih berada pada zona positif. Aktivitas ekonomi masyarakat yang meningkat turut menjaga momentum pertumbuhan di kawasan tersebut.
Pada triwulan II/2026, Jawa Timur mencatat pertumbuhan ekonomi semester I sebesar 5,84 persen secara c-to-c. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan provinsi lain di Pulau Jawa.
Jawa Tengah dan DI Yogyakarta menyusul dengan pertumbuhan masing-masing 5,80 persen. Berikutnya, Jawa Barat mencatat 5,76 persen, Banten 5,57 persen, dan DKI Jakarta 5,55 persen.
Dengan capaian tersebut, Jawa Timur tidak hanya melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,45 persen. Jawa Timur juga menjadi provinsi dengan pertumbuhan ekonomi semester I/2026 tertinggi di Pulau Jawa. (j/*)











Komentar