Keanekaragaman Nepenthes Indonesia Jadi Warisan Berharga, Jejak Prof. Mansur Jaga Kantong Semar

- Jurnalis

Kamis, 25 Juni 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Keanekaragaman Nepenthes Indonesia Jadi Warisan Berharga, Jejak Prof. Mansur Jaga Kantong Semar (foto: ksdae.kehutanan)

Keanekaragaman Nepenthes Indonesia Jadi Warisan Berharga, Jejak Prof. Mansur Jaga Kantong Semar (foto: ksdae.kehutanan)

Sisipublik.com – Keanekaragaman Nepenthes Indonesia terus menjadi perhatian penting dalam upaya pelestarian flora nasional. Selama hampir empat dekade, Prof. Muhammad Mansur mendedikasikan hidupnya untuk meneliti, menemukan, dan menjaga keberadaan kantong semar yang tersebar dari Sulawesi hingga Papua.

Perjalanan panjang tersebut memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat keanekaragaman kantong semar terbesar di dunia. Selain memperkaya ilmu pengetahuan, upaya yang ia lakukan ikut memperkuat fondasi konservasi tumbuhan khas Nusantara.

Prof. Mansur memulai karier sebagai peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada 1985. Kini, ia melanjutkan kiprahnya sebagai Peneliti Ahli Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Selama lebih dari 38 tahun, ia menjelajahi berbagai kawasan hutan untuk mempelajari ekologi tumbuhan, terutama Nepenthes.

Keanekaragaman Nepenthes Indonesia semakin mendapat perhatian setelah sejumlah temuannya memperkaya katalog botani dunia. Ia berhasil menemukan Nepenthes pitopangii dari Sulawesi Tengah pada 2009, Nepenthes monticola dari Papua Barat pada 2012, dan Nepenthes diabolica pada 2020.

Keanekaragaman Nepenthes Indonesia Menjadi Pusat Dunia

Dalam Sidang Terbuka Orasi Ilmiah Profesor Riset di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Rabu (24/6), Prof. Mansur menyampaikan bahwa Indonesia memiliki 83 jenis Nepenthes. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 39,3 persen dari seluruh spesies Nepenthes di dunia.

Baca Juga :  Expo ORHL 2026 Jadi Ajang Kolaborasi Riset Hayati dan Lingkungan untuk Dorong Inovasi Nasional

Menurutnya, kantong semar memiliki kemampuan adaptasi yang sangat unik. Tumbuhan karnivora itu memodifikasi ujung daunnya menjadi kantong perangkap untuk memperoleh tambahan nutrisi dari serangga dan organisme kecil.

Selain itu, proses pencernaan pada kantong semar melibatkan enzim khusus bernama nepenthesin. Keberadaan mekanisme tersebut membuat Nepenthes memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.

Keanekaragaman Nepenthes Indonesia Menghadapi Ancaman Serius

Meski memiliki kekayaan spesies yang tinggi, sebagian besar Nepenthes di Indonesia bersifat endemik. Bahkan, beberapa jenis hanya tumbuh pada satu gunung atau kawasan tertentu.

Karena itu, perubahan lingkungan memberi dampak besar terhadap keberlangsungan hidupnya. Deforestasi, alih fungsi lahan, aktivitas pertambangan, perubahan iklim, hingga perdagangan ilegal menjadi ancaman utama.

Dalam orasinya, Prof. Mansur menegaskan bahwa Keanekaragaman Nepenthes Indonesia menghadapi tekanan yang semakin serius. Oleh sebab itu, ia mendorong penerapan konservasi terpadu melalui pendekatan in situ maupun ex situ.

Potensi Ekonomi dan Lingkungan dari Kantong Semar

Prof. Mansur menilai pelestarian tidak hanya bertujuan menjaga spesies dari ancaman kepunahan. Ia juga melihat peluang pemanfaatan berkelanjutan dari tanaman tersebut.

Baca Juga :  Teknologi MAS Bantu Jaga Mutu Benih Bawang Merah, BRIN Temukan Metode Penyimpanan Paling Efektif

Kantong semar memiliki nilai ekonomi sebagai tanaman hias. Selain itu, tumbuhan tersebut dapat mendukung wisata berbasis alam serta berfungsi sebagai biomonitor lingkungan karena mampu mengakumulasi logam berat.

Beberapa spesies bahkan menunjukkan kemampuan menyerap karbon yang setara dengan pohon pionir pada hutan sekunder. Potensi tersebut membuka peluang pemanfaatan yang tetap selaras dengan prinsip konservasi.

Regenerasi Peneliti Menjadi Kunci Masa Depan

Selain aktif menghasilkan berbagai publikasi ilmiah dan buku, Prof. Mansur juga membimbing peneliti muda serta mahasiswa. Ia rutin membantu identifikasi spesies Nepenthes bagi kalangan akademik.

Saat ini, enam spesies Nepenthes Indonesia telah masuk kategori kritis menurut IUCN. Kondisi tersebut membuat upaya konservasi membutuhkan perhatian segera.

Bagi Prof. Mansur, setiap langkah penelitian di hutan membawa misi besar. Ia ingin generasi mendatang tetap dapat menyaksikan kantong semar tumbuh alami di berbagai kawasan Nusantara.

“Keanekaragaman Nepenthes di Indonesia adalah aset berharga yang memerlukan pengelolaan bijak dan konservasi aktif,” ujar Prof. Mansur. (j/*)

Berita Terkait

Stiker Personal dengan ChatGPT Images, Begini Cara Membuat dan Mengeditnya
BRIN Pantau Air Tanah Gambut untuk Deteksi Dini Karhutla Bawah Permukaan
Teknologi Nuklir BRIN Diuji untuk Perpanjang Umur Simpan Beras BULOG
Cara Pasang CCTV Sendiri di Rumah untuk Pemula, Perhatikan 7 Langkah Ini
5 Cara Menghilangkan Iklan di HP Samsung, dari Notifikasi hingga Aplikasi Bermasalah
Cara Buka Situs Terblokir Tanpa Aplikasi, Kenali Cara Kerja Proxy BlockAway
Riset BRIN Ungkap Potensi Ulat Sagu sebagai Sumber Protein dan Bahan Baku Industri
Top Up e-Toll atau e-Money: Pilih Cara Lewat HP, Minimarket, atau ATM
Berita ini 6 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 4 September 2026 - 07:00 WIB

Stiker Personal dengan ChatGPT Images, Begini Cara Membuat dan Mengeditnya

Kamis, 3 September 2026 - 10:00 WIB

BRIN Pantau Air Tanah Gambut untuk Deteksi Dini Karhutla Bawah Permukaan

Rabu, 2 September 2026 - 21:57 WIB

Teknologi Nuklir BRIN Diuji untuk Perpanjang Umur Simpan Beras BULOG

Rabu, 2 September 2026 - 07:00 WIB

Cara Pasang CCTV Sendiri di Rumah untuk Pemula, Perhatikan 7 Langkah Ini

Senin, 31 Agustus 2026 - 10:00 WIB

5 Cara Menghilangkan Iklan di HP Samsung, dari Notifikasi hingga Aplikasi Bermasalah

Berita Terbaru