Tempe Nonkedelai Mulai Dilirik, Manfaatnya Tak Hanya untuk Sumber Protein

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 22 Juni 2026 - 10:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Tempe Nonkedelai Mulai Dilirik, Manfaatnya Tak Hanya untuk Sumber Protein (foto: Wikipedia)

Tempe Nonkedelai Mulai Dilirik, Manfaatnya Tak Hanya untuk Sumber Protein (foto: Wikipedia)

Sisipublik.com – Tempe nonkedelai semakin menunjukkan potensi besar sebagai alternatif pangan bergizi di Indonesia. Pemanfaatan berbagai kacang lokal tidak hanya menghadirkan sumber protein baru, tetapi juga mendukung kesehatan masyarakat dan memperkuat ketahanan pangan nasional.

Selain itu, Indonesia memiliki banyak jenis kacang-kacangan yang dapat diolah menjadi tempe. Teknologi fermentasi tersebut sudah lama berkembang sebagai bagian dari kearifan lokal di berbagai daerah.

Tempe nonkedelai telah dikenal masyarakat sejak lama. Periset Postdoctoral Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ririn Krisnawati, menjelaskan bahwa masyarakat memanfaatkan bahan pangan lokal melalui proses fermentasi menggunakan kapang Rhizopus spp.

Tempe Nonkedelai Berasal dari Kearifan Lokal

Menurut Ririn, industri tempe nasional masih mengandalkan kedelai sebagai bahan baku utama. Sementara itu, kebutuhan kedelai nasional mencapai sekitar 2,8 juta ton setiap tahun. Produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan tersebut sehingga impor masih mendominasi.

Akibatnya, pasokan dan harga bahan baku sering mengikuti perubahan pasar global. Karena itu, pemanfaatan kacang-kacangan lokal menjadi pilihan yang menjanjikan.

Baca Juga :  Keanekaragaman Nepenthes Indonesia Jadi Warisan Berharga, Jejak Prof. Mansur Jaga Kantong Semar

Ririn menyebutkan beberapa komoditas yang berpotensi menjadi bahan baku tempe, seperti kacang tolo, koro benguk, koro pedang, kecipir, dan kacang hijau. Pemanfaatan bahan tersebut sekaligus dapat meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian daerah.

Tempe Nonkedelai Tingkatkan Manfaat Kesehatan

Tempe nonkedelai juga menawarkan manfaat kesehatan yang menjanjikan. Proses fermentasi dengan Rhizopus oligosporus dan Rhizopus microsporus mampu mengubah protein kompleks menjadi bentuk yang lebih mudah diserap tubuh.

Di sisi lain, fermentasi membantu menurunkan kandungan zat antinutrisi yang dapat menghambat penyerapan gizi. Proses tersebut menghasilkan berbagai senyawa bioaktif yang mendukung kesehatan.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa aktivitas antioksidan pada tempe nonkedelai meningkat setelah fermentasi. Kandungan senyawa fenolik berperan melindungi sel tubuh dari radikal bebas.

Tidak hanya itu, beberapa jenis tempe nonkedelai juga memiliki aktivitas antibakteri dan berpotensi membantu menjaga kadar gula darah. Tempe berbahan koro benguk dan koro kratok bahkan menunjukkan potensi dalam membantu menjaga tekanan darah tetap normal.

Baca Juga :  RCBO Gantikan MCB, Pemerintah Siapkan Standar Baru Pengaman Instalasi Listrik

Berbagai senyawa bioaktif seperti daidzein, kaempferol, serta asam p-kumarat juga memiliki potensi mendukung kesehatan tubuh.

Riset Modern Buka Peluang Produk Bernilai Tinggi

Saat ini, pengembangan tempe nonkedelai tidak hanya berfokus pada kandungan gizi. Para peneliti mulai memanfaatkan pendekatan metabolomik, metagenomik, dan volatilomik untuk memahami proses fermentasi secara lebih mendalam.

Pendekatan tersebut membantu mengidentifikasi metabolit, mikroorganisme, serta senyawa pembentuk aroma dan cita rasa. Dengan demikian, pengembangan produk pangan fungsional berbasis bukti ilmiah semakin terbuka.

Ririn menilai prospek tempe nonkedelai sangat besar untuk mendukung sistem pangan berkelanjutan. Produksi yang higienis dan fermentasi yang tepat dapat menghadirkan produk sehat sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor kedelai.

Karena itu, pemanfaatan kacang-kacangan lokal berpotensi memperkuat ketahanan pangan nasional dan mendorong lahirnya berbagai inovasi pangan berbasis fermentasi. (j/*)

Berita Terkait

Biobriket Limbah Jahe Jadi Solusi Energi Bersih, Riset BRIN Buka Peluang Ekonomi Sirkular
Expo ORHL 2026 Jadi Ajang Kolaborasi Riset Hayati dan Lingkungan untuk Dorong Inovasi Nasional
Ilmuwan Muda Terbaik 2026: Riset Kemiri dan Tempe Antar Dua Peneliti SGU Raih Nominasi Bergengsi
Teknologi Pengolahan Bijih Nikel, Inovasi Baru BRIN Mampu Manfaatkan Hampir Seluruh Material
Teknologi MAS Bantu Jaga Mutu Benih Bawang Merah, BRIN Temukan Metode Penyimpanan Paling Efektif
BRIN Kembangkan Teknologi Deteksi Halal untuk Perkuat Inovasi Pangan dan Industri Nasional
Cabai Tahan Kutudaun Jadi Fokus BRIN, Inovasi Baru untuk Tingkatkan Produktivitas Petani
Pemanfaatan Limbah Industri Dorong Inovasi Pertanian dan Kelestarian Lingkungan
Berita ini 6 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 10 Juli 2026 - 18:00 WIB

Biobriket Limbah Jahe Jadi Solusi Energi Bersih, Riset BRIN Buka Peluang Ekonomi Sirkular

Jumat, 10 Juli 2026 - 15:35 WIB

Expo ORHL 2026 Jadi Ajang Kolaborasi Riset Hayati dan Lingkungan untuk Dorong Inovasi Nasional

Jumat, 10 Juli 2026 - 11:00 WIB

Ilmuwan Muda Terbaik 2026: Riset Kemiri dan Tempe Antar Dua Peneliti SGU Raih Nominasi Bergengsi

Kamis, 9 Juli 2026 - 09:00 WIB

Teknologi Pengolahan Bijih Nikel, Inovasi Baru BRIN Mampu Manfaatkan Hampir Seluruh Material

Kamis, 2 Juli 2026 - 08:00 WIB

Teknologi MAS Bantu Jaga Mutu Benih Bawang Merah, BRIN Temukan Metode Penyimpanan Paling Efektif

Berita Terbaru