Sisipublik.com – Inovasi Bawang Merah Berkelanjutan menjadi salah satu fokus pengembangan pertanian nasional di tengah tantangan perubahan iklim dan keterbatasan sumber daya. Kawasan pesisir yang memiliki potensi besar untuk mendukung produksi pangan nasional kini mendapat perhatian lebih melalui berbagai teknologi modern yang mampu meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan.
Namun demikian, wilayah pesisir masih menghadapi sejumlah kendala. Tingginya kadar salinitas tanah, degradasi lahan, keterbatasan sumber daya, serta kondisi sosial ekonomi masyarakat menjadi faktor yang memengaruhi hasil pertanian. Selain itu, perubahan iklim juga ikut memberikan tekanan terhadap keberlanjutan produksi pangan.
Dalam upaya menjawab tantangan tersebut, Inovasi Bawang Merah Berkelanjutan terus dikembangkan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, Arlyna Budi Pustika, memperkenalkan teknologi true shallot seed (TSS) atau benih botani bawang merah dalam workshop yang berlangsung di Kota Batu, Jawa Timur, pada 9-11 Juni 2026.
Sistem produksi bawang merah berbasis TSS di nilai mampu menghadirkan pola budidaya yang lebih sehat, efisien, dan berkelanjutan. Teknologi ini membantu petani mengurangi risiko penyebaran penyakit melalui bahan tanam sekaligus mempermudah distribusi benih ke berbagai daerah. Selain itu, penggunaan benih botani membuka peluang pengembangan sistem produksi yang lebih modern dan adaptif terhadap perubahan lingkungan.
Paparan tersebut di sampaikan Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, Arlyna Budi Pustika, dalam kegiatan workshop yang berlangsung di Kota Batu, Jawa Timur, pada 9 hingga 11 Juni 2026. Kegiatan tersebut membahas pengembangan bawang merah, cabai, dan padi agar lebih produktif, efisien, serta mampu beradaptasi dengan perubahan iklim dalam jangka panjang.
Inovasi Bawang Merah Berkelanjutan Melalui Teknologi Modern
Workshop tersebut membahas pengembangan sistem produksi bawang merah, cabai, dan padi yang lebih produktif, adaptif terhadap perubahan iklim, serta berkelanjutan dalam jangka panjang.
Sementara itu, Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Hortikultura BRIN, Rini Murtiningsih, menjelaskan bahwa serangan trips, ulat grayak, lalat bawang, dan berbagai penyakit tanaman masih menjadi tantangan utama bagi petani bawang merah.
Karena itu, BRIN terus mengembangkan pendekatan Pengelolaan Hama Terpadu melalui penerapan budidaya tanaman sehat, pemanfaatan musuh alami, pengamatan agroekosistem secara berkala, serta peningkatan kapasitas petani.
Berbagai inovasi juga telah diuji, mulai dari penggunaan feromon exi, nano-biopestisida, teknologi netting house, hingga sistem irigasi tetes.
Teknologi Modern Tingkatkan Efisiensi Budidaya
Selain menjaga produktivitas, teknologi irigasi tetes juga meningkatkan efisiensi penggunaan air dan pupuk. Peneliti mencatat teknologi tersebut mampu mengurangi kebutuhan pupuk sekitar 30 persen di bandingkan metode budidaya konvensional.
Sementara itu, penerapan netting house oleh petani di Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo, memberikan manfaat ekonomi yang cukup signifikan. Teknologi tersebut membantu petani menekan penggunaan pestisida sekitar 30 hingga 70 persen sehingga biaya produksi menjadi lebih efisien.
Kolaborasi Riset Dorong Inovasi Pertanian Berkelanjutan
Workshop ini menjadi bagian dari kerja sama penelitian yang mendapat dukungan Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR). Program tersebut melibatkan BRIN, Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian Kementerian Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB), serta Universitas Gadjah Mada (UGM).
Manajer ACIAR Indonesia, Teddy Kristedi, menyampaikan bahwa kerja sama penelitian pertanian antara Indonesia dan Australia telah berlangsung sejak 1982. Menurutnya, Indonesia memiliki peran strategis dalam pengembangan inovasi pertanian di kawasan Indo-Pasifik.
Di sisi lain, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementerian Pertanian, Muhammad Agung Sunusi, menegaskan bahwa cabai dan bawang merah memiliki posisi penting dalam sistem pangan nasional. Kedua komoditas tersebut berpengaruh langsung terhadap ketersediaan pangan dan stabilitas ekonomi. (j/*)











Komentar