Sisipublik.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sedang meneliti Potensi Limbah Ampas Kopi Gayo Jadi Kemasan Pangan Ramah Lingkungan. Melalui kajian tersebut, para peneliti mengembangkan material alternatif yang lebih berkelanjutan untuk menggantikan plastik konvensional pada industri pangan.
Selama ini, plastik masih mendominasi penggunaan sebagai kemasan makanan. Namun, material tersebut sulit terurai dan berasal dari sumber daya yang tidak dapat diperbarui sehingga memicu berbagai persoalan lingkungan. Karena itu, peneliti terus mencari bahan yang lebih aman sekaligus memiliki performa tinggi.
Potensi Limbah Ampas Kopi Gayo Jadi Kemasan Pangan Ramah Lingkungan Diuji BRIN
Peneliti Pascadoktoral Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN, Haya Fathana, memaparkan hasil penelitiannya dalam Webinar Jejak Kimia Molekuler Edisi ke-10, Kamis (16/7). Potensi Limbah Ampas Kopi Gayo Jadi Kemasan Pangan Ramah Lingkungan menjadi tema utama penelitian yang mengombinasikan limbah biomassa dengan material biopolimer.
Menurut Haya, kitosan memiliki karakter biodegradable, biokompatibel, dan mampu membentuk lapisan film sehingga cocok sebagai bahan dasar kemasan ramah lingkungan. Meski demikian, kitosan masih memiliki kelemahan pada kekuatan mekanik serta ketahanan terhadap air.
Oleh karena itu, tim peneliti menambahkan limbah ampas kopi Gayo yang mengandung selulosa, hemiselulosa, lignin, dan polifenol. Kandungan tersebut membantu meningkatkan kekuatan material, memperbaiki stabilitas termal, memperkuat sifat hidrofobik, serta menambah aktivitas antioksidan.
Selain itu, penelitian juga memanfaatkan nanopartikel seng oksida (ZnO). Material ini berfungsi meningkatkan sifat antimikroba, memberikan perlindungan terhadap sinar ultraviolet, dan memperkuat karakteristik mekanik film komposit.
Film Komposit Tunjukkan Karakter Lebih Kuat dan Antibakteri
Hasil pengujian menunjukkan film komposit berhasil terbentuk secara utuh, fleksibel, dan homogen. Penambahan ampas kopi Gayo menghasilkan warna kecokelatan yang menandakan keberadaan partikel lignoselulosa. Sementara itu, penambahan ZnO tetap menjaga struktur film tanpa retakan.
Selanjutnya, karakterisasi material memperlihatkan adanya interaksi antarmolekul antara kitosan, komponen lignoselulosa dari ampas kopi, dan nanopartikel ZnO. Kombinasi tersebut meningkatkan kekuatan mekanik, mengurangi permeabilitas uap air, memperbaiki sifat hidrofobik, sekaligus meningkatkan kemampuan material menghalangi radiasi ultraviolet di bandingkan film kitosan biasa.
Di sisi lain, film komposit juga memperlihatkan aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Kombinasi ampas kopi Gayo dan ZnO menghasilkan kemampuan penghambatan mikroba yang paling tinggi sehingga berpeluang mendukung pengembangan kemasan pangan aktif (active packaging).
Dukung Ekonomi Sirkular dan Inovasi Kemasan Masa Depan
Lebih lanjut, Haya menilai pemanfaatan limbah ampas kopi Gayo mampu meningkatkan nilai tambah limbah pertanian sekaligus mendukung penerapan ekonomi sirkular melalui pengembangan kemasan pangan berkelanjutan.
Tidak hanya itu, penelitian tersebut juga membuka peluang pemanfaatan biomaterial lokal yang memiliki sifat mekanik lebih baik, perlindungan terhadap sinar ultraviolet, daya hambat mikroba, serta kemampuan menjaga kualitas produk pangan. Dengan demikian, inovasi ini berpotensi menjadi salah satu solusi untuk menghadirkan kemasan pangan yang lebih ramah lingkungan pada masa depan. (j/*)











Komentar