Sisipublik.com – Peta Jalan Riset Nasional akan menjadi pedoman utama pengembangan riset Indonesia hingga tahun 2045. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menyusun dokumen tersebut agar seluruh agenda penelitian memiliki arah yang sama dan mampu mendukung pembangunan nasional.
Kepala BRIN, Arif Satria, menjelaskan penyusunan peta jalan itu bertujuan menyatukan langkah antara BRIN, perguruan tinggi, dunia industri, serta berbagai pemangku kepentingan. Dengan demikian, hasil riset tidak berhenti sebagai kajian ilmiah, tetapi mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan mendukung kebijakan strategis pemerintah.
Peta Jalan Riset Nasional Menyatukan Arah Penelitian
Peta Jalan Riset Nasional juga menjadi dasar bagi para peneliti dalam menentukan prioritas penelitian selama dua dekade mendatang. Arif menilai kesamaan arah tersebut akan memperkuat ekosistem riset nasional sekaligus mendorong lahirnya inovasi yang bermanfaat bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), industri, serta penyelesaian berbagai persoalan nasional.
Selain itu, BRIN bersama Kemdiktisaintek kini mematangkan peluncuran dokumen tersebut. Rencananya, pemerintah akan memperkenalkannya secara resmi di Surabaya sebagai acuan seluruh lembaga riset di Indonesia hingga 2045.
Menurut Arif, kolaborasi kedua lembaga menjadi langkah penting agar penelitian strategis tidak berjalan sendiri-sendiri. Sebaliknya, seluruh riset akan mengacu pada arah pembangunan nasional yang telah disusun secara bersama.
Riset Berbasis Data Dukung Industrialisasi
Lebih lanjut, Arif menegaskan arah riset yang jelas akan membantu pemerintah dan pelaku industri dalam menentukan pilihan teknologi masa depan. Karena itu, proses industrialisasi Indonesia tidak hanya bergantung pada perkiraan, tetapi juga memanfaatkan data ilmiah dan proyeksi perkembangan teknologi.
Ia meyakini pendekatan tersebut akan membuat industri nasional lebih adaptif terhadap perubahan global. Selain mampu meningkatkan daya saing, strategi itu juga menjaga keberlanjutan sektor industri dalam menghadapi perkembangan zaman.
Pemerintah Bentuk Kelompok Kerja Riset
Sementara itu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto mengungkapkan Presiden Prabowo Subianto meminta tindak lanjut atas berbagai rekomendasi yang muncul dalam Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2026.
Sebagai respons, pemerintah akan membentuk kelompok kerja yang melibatkan guru besar, dosen, peneliti perguruan tinggi, serta BRIN. Kelompok tersebut akan bekerja sama dengan kementerian teknis untuk mengkaji berbagai isu strategis nasional.
Menurut Brian, langkah itu bertujuan memperkuat kontribusi sains, teknologi, riset, dan inovasi dalam penyusunan kebijakan pemerintah. Presiden juga menilai perguruan tinggi dan lembaga riset memiliki peran besar dalam menghadirkan solusi nyata bagi berbagai tantangan bangsa.
Kolaborasi Jadi Kunci Kemajuan Bangsa
Brian menambahkan Presiden mendorong seluruh potensi bangsa bersatu untuk menghasilkan gagasan terbaik demi kemajuan Indonesia. Sinergi antarlembaga dinilai menjadi fondasi penting dalam mempercepat pembangunan berbasis ilmu pengetahuan.
Di sisi lain, Presiden terus menegaskan bahwa sains, teknologi, riset, dan inovasi merupakan investasi jangka panjang bagi kemajuan nasional. Oleh sebab itu, pemerintah berharap kolaborasi antara akademisi, peneliti, industri, dan pemerintah terus menguat.
Sebagai informasi, Sarasehan Kebangsaan KSTI 2026 berlangsung pada 26–28 Juni 2026 melalui kerja sama dengan Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI). Forum tersebut mempertemukan Presiden, para menteri Kabinet Merah Putih, pimpinan perguruan tinggi, akademisi, peneliti, hingga mitra pembangunan untuk merumuskan rekomendasi kebijakan berbasis ilmu pengetahuan demi memperkuat kemandirian ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia. (j/*)










Komentar