Sisipublik.com – Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyiapkan ekspor kerajinan UMKM ke Kanada melalui Program Trade through Regional Inclusive Sustainable Economic Growth (TRISEG). Program kerja sama dengan Trade Facilitation Office (TFO) Canada tersebut menargetkan pendampingan terhadap 200 UMKM selama lima tahun untuk meningkatkan kualitas produk dan memperluas jaringan perdagangan internasional.
Kemendag meluncurkan TRISEG di Auditorium Kemendag, Jakarta, Selasa (3/11/2026). Program ini berfokus pada penguatan kapasitas usaha, peningkatan daya saing produk kerajinan, serta pembukaan akses pasar bagi pelaku UMKM Indonesia.
Peluang ekspor kerajinan UMKM ke Kanada menjadi perhatian karena negara tersebut memiliki kebutuhan impor produk kerajinan yang cukup besar. Pada 2025, nilai impor kerajinan Kanada dari berbagai negara mencapai sekitar US$1,2 miliar. Sementara itu, produk asal Indonesia menyumbang sekitar US$26,5 juta atau 2,1 persen dari total impor tersebut.
TRISEG Buka Peluang Ekspor Kerajinan UMKM ke Kanada
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Fajarini Puntodewi, menilai produk kerajinan Indonesia memiliki keunggulan yang dapat menarik konsumen Kanada. Keunggulan tersebut mencakup orisinalitas, keterampilan pengerjaan, desain khas, serta penerapan prinsip keberlanjutan.
Menurut Puntodewi, pelaku UMKM membutuhkan dukungan agar mampu mengembangkan keunggulan produknya sekaligus memenuhi kebutuhan pasar internasional.
“Produk kerajinan Indonesia memiliki berbagai keunggulan yang dihargai konsumen Kanada, antara lain, orisinalitas, keterampilan pengerjaan (craftsmanship), nilai keberlanjutan, dan desain yang khas,” ujar Puntodewi saat peluncuran TRISEG.
Melalui program ini, Kemendag ingin membantu pelaku usaha memperluas akses pasar, membangun hubungan bisnis dengan pembeli Kanada, serta meningkatkan nilai perdagangan produk kerajinan Indonesia.
Kemendag Siapkan Pendampingan bagi 200 UMKM
Direktur Pengembangan Ekspor Manufaktur Kemendag, Deden Muhammad F.S., menjelaskan bahwa TRISEG akan berlangsung selama lima tahun di Indonesia. Program tersebut melibatkan asosiasi usaha, eksportir, dan Indonesia Eximbank untuk mendukung pengembangan kapasitas peserta.
Kemendag menargetkan pendampingan terhadap 200 UMKM hingga Maret 2030. Melalui pendampingan tersebut, peserta diharapkan mampu memperbaiki kesiapan ekspor, meningkatkan kualitas produk, dan memahami kebutuhan calon pembeli di Kanada.
Selain itu, TRISEG juga membuka peluang partisipasi bagi usaha yang dipimpin perempuan dan kelompok usaha yang selama ini belum memperoleh keterwakilan memadai dalam perdagangan internasional.
Pelatihan hingga Fasilitasi Pertemuan dengan Buyer Kanada
Program Director TFO Canada, Zaki Munshi, memaparkan bahwa TRISEG menyediakan sejumlah bentuk dukungan bagi peserta. Fasilitas tersebut mencakup pelatihan, pendampingan usaha, riset pasar, pengembangan pengetahuan, serta fasilitasi pertemuan bisnis atau business-to-business (B2B).
Dukungan itu bertujuan membantu UMKM memahami karakteristik pasar Kanada. Dengan demikian, pelaku usaha dapat menyesuaikan desain, kualitas, dan strategi pemasaran produk berdasarkan kebutuhan pembeli.
“Ketika pelaku usaha memiliki akses terhadap informasi pasar, pelatihan ekspor, keahlian teknis, dan jaringan bisnis, mereka akan lebih mampu menyesuaikan produk, memenuhi ekspektasi pembeli, serta memperluas ekspor,” ujar Munshi.
Ia menambahkan, peningkatan kemampuan usaha juga berpotensi mendorong kesejahteraan masyarakat dan memperkuat ketahanan komunitas. Karena itu, TRISEG tidak hanya berorientasi pada peningkatan perdagangan, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif.
Kurasi Peserta Berlangsung hingga 15 Desember 2026
Kemendag telah membuka proses kurasi UMKM untuk mengikuti TRISEG. Pelaku usaha kerajinan yang berminat dapat mengajukan pendaftaran hingga 15 Desember 2026 melalui tautan resmi berikut:
Pendaftaran TRISEG: https://kemend.ag/trisegproject
Kemendag juga mendorong asosiasi usaha, kementerian, lembaga, dan institusi pendukung untuk menyebarluaskan informasi program tersebut. Langkah ini diharapkan dapat menjangkau UMKM potensial dari berbagai daerah, termasuk usaha yang dimiliki atau dipimpin perempuan.
Sementara itu, Co-founder Lampu Runa, Noro Ardanto, menyambut dukungan tersebut karena industri kerajinan membutuhkan program pengembangan dengan indikator keberhasilan yang terukur.
Noro berharap TRISEG dapat mendorong penggunaan material yang lebih berkelanjutan dalam pembuatan produk kerajinan. Ia juga berencana mempelajari lebih lanjut fasilitas program agar dapat memanfaatkannya untuk pengembangan usaha.
TRISEG memperoleh pendanaan dari Pemerintah Kanada melalui Global Affairs Canada. Kemendag dan TFO Canada menjalankan program ini bersama mitra kelembagaan di negara-negara peserta.
Melalui kolaborasi tersebut, pemerintah berharap UMKM kerajinan Indonesia tidak hanya meningkatkan kesiapan ekspor, tetapi juga membangun kemitraan jangka panjang dan memperkuat posisi produk lokal di pasar internasional.











Komentar