Sisipublik.com – Riset jadi cerita menjadi salah satu pendekatan yang dikembangkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk memperkenalkan pengetahuan ilmiah kepada anak. Melalui cerita, peneliti dapat mengemas temuan penelitian dengan tokoh, alur, dan pengalaman yang lebih dekat dengan kehidupan pembaca anak.
Pendekatan tersebut dibahas dalam Workshop Penulisan Buku Cerita Anak Berbasis Hasil Penelitian yang digelar Pusat Riset Kewilayahan (PRW) BRIN pada September 2026. Kegiatan itu mempertemukan para periset dengan penulis dan ilustrator buku anak untuk mengembangkan hasil penelitian menjadi naskah cerita.
Riset Jadi Cerita Membutuhkan Penyesuaian Bahasa
Riset jadi cerita tidak sekadar mengubah istilah ilmiah menjadi bahasa yang lebih sederhana. Penulis perlu menyesuaikan struktur cerita dengan usia pembaca, sekaligus menjaga informasi penelitian tetap tepat.
Dalam kegiatan tersebut, penulis dan ilustrator buku anak Renny Yaniar memberikan materi serta mengevaluasi latihan para periset. Evaluasi mencakup ide cerita, karakter, alur, penggunaan bahasa, hingga cara memasukkan informasi penelitian melalui pengalaman tokoh.
Untuk anak usia dini, Renny menjelaskan bahwa penulis perlu menggunakan kalimat yang pendek, jelas, dan mudah dipahami. Sementara itu, cerita untuk anak usia sekolah dasar dapat memakai struktur yang lebih kompleks dengan kosakata yang tetap sesuai kemampuan pembaca.
Selain itu, penulis dapat menyampaikan pesan melalui tindakan dan pengalaman tokoh. Cara tersebut membuat anak mengikuti gagasan cerita melalui peristiwa yang dialami karakter, bukan hanya melalui nasihat secara langsung.
Tokoh dan Konflik Membantu Menyampaikan Pengetahuan
Cerita anak juga membutuhkan unsur yang membuat pembaca mengikuti perjalanan tokoh. Karena itu, naskah perlu memiliki alur yang jelas, konflik yang sederhana, serta tema yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Renny menyebut persoalan pertemanan, perselisihan, dan petualangan sederhana sebagai contoh tema yang dapat digunakan untuk pembaca usia sekolah dasar. Tokoh anak juga dapat menghadapi persoalan dan mengambil keputusan sehingga cerita menghadirkan pengalaman yang relevan bagi pembacanya.
Tokoh dalam cerita tidak selalu harus berupa manusia. Hewan, tumbuhan, benda, atau karakter imajinatif juga dapat menjalankan peran dalam cerita selama penulis membangun konflik dan perkembangan karakter secara jelas.
Pendekatan tersebut membuka ruang bagi periset untuk mengolah pengalaman penelitian menjadi cerita tanpa harus memindahkan seluruh bahasa akademik ke dalam buku anak. Dengan demikian, pengetahuan dapat hadir melalui peristiwa dan pengalaman yang lebih mudah diikuti.
Ilustrasi Menjadi Bagian Penting dalam Cerita Anak
Selain teks, ilustrasi turut membantu anak memahami isi cerita. Karena itu, penulis perlu memberikan ruang bagi ilustrator untuk mengembangkan gambaran visual yang sesuai dengan naskah.
Dalam sesi evaluasi, para periset memaparkan cerita yang mereka kembangkan dari hasil penelitian masing-masing. Renny kemudian memberikan masukan terhadap struktur, karakter, bahasa, serta cara menyampaikan informasi penelitian kepada pembaca anak.
PRW BRIN juga mendorong peserta memanfaatkan sesi coaching untuk mendiskusikan naskah secara langsung. Proses tersebut memberi kesempatan kepada periset untuk memperbaiki gagasan sebelum mengembangkan naskah menjadi karya yang lebih utuh.
Memperluas Akses Pengetahuan Ilmiah
Pengembangan buku cerita berbasis penelitian memperluas pilihan media untuk menyampaikan hasil riset kepada masyarakat. Publikasi ilmiah tetap memiliki fungsi penting bagi komunikasi akademik, sedangkan cerita anak dapat menjangkau pembaca dengan kebutuhan bahasa dan pengalaman yang berbeda.
Dengan pendekatan tersebut, hasil penelitian dapat hadir dalam bentuk yang lebih kontekstual bagi anak. Pengetahuan tentang lingkungan, budaya, sosial, maupun berbagai bidang penelitian lainnya dapat dikaitkan dengan tokoh dan persoalan yang mereka kenal.
Pada akhirnya, riset jadi cerita tidak hanya membutuhkan penyederhanaan informasi. Proses tersebut juga menuntut kemampuan memilih fakta, membangun alur, menciptakan karakter, dan menghubungkan pengetahuan dengan pengalaman pembaca. Langkah ini dapat membuka ruang bagi anak untuk mengenal dunia penelitian melalui bacaan yang sesuai dengan usia mereka.











Komentar