Sisipublik.com – Cengkerama Iklim di Surabaya mendorong pelajar dan mahasiswa tidak berhenti membahas perubahan iklim, tetapi mulai menerapkan solusi dari lingkungan terdekat. Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menggelar kegiatan bertajuk “Muda Peduli, Muda Beraksi” pada 19–20 September 2026 dengan melibatkan sekitar 100 pelajar dan mahasiswa.
Kegiatan tersebut mempertemukan peserta dengan pegiat lingkungan, pemerintah daerah, serta perwakilan KLH/BPLH. Selain memperoleh materi mengenai perubahan iklim, peserta menyusun gagasan dan rencana aksi yang dapat mereka terapkan di sekolah, kampus, komunitas, maupun lingkungan tempat tinggal.
Cengkerama Iklim Bahas Masalah Lingkungan dari Lingkungan Terdekat
Melalui Cengkerama Iklim, KLH/BPLH mengarahkan peserta untuk melihat persoalan lingkungan secara lebih dekat. Materi kegiatan mencakup perubahan iklim, mitigasi, adaptasi, kebijakan lingkungan, komunikasi iklim, hingga penyusunan rencana aksi.
Pembahasan juga mengangkat konsep triple planetary crisis yang mencakup perubahan iklim, kehilangan keanekaragaman hayati, dan polusi. Wisnu Murti dari KLH/BPLH mengaitkan persoalan tersebut dengan aktivitas sehari-hari, termasuk penggunaan energi, pengelolaan sampah, dan penanaman pohon.
Di sisi lain, Pemerintah Kota Surabaya memaparkan sejumlah langkah pengelolaan lingkungan perkotaan. Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Surabaya Maria Agustina Yuristina menyebut keberadaan sekitar 700 taman kota dan tujuh hutan kota sebagai bagian dari pengelolaan ruang hijau di wilayah tersebut.
Dari Pengelolaan Sampah hingga Keterlibatan Anak Muda
Persoalan sampah menjadi salah satu contoh aksi yang dekat dengan kehidupan peserta. Putri Lingkungan Hidup 2024, Queen Anneysa Kabeer Lukito, membagikan pengalamannya mengolah sampah organik melalui budidaya maggot.
Pengalaman itu menunjukkan bahwa pengelolaan lingkungan dapat berangkat dari persoalan sederhana di sekitar masyarakat. Queen juga menyampaikan bahwa kegiatan lingkungannya telah berlangsung selama enam tahun dan mencakup pengolahan sampah organik.
Selain itu, peserta mendapatkan perspektif mengenai keterlibatan generasi muda dalam ruang kebijakan. Anastasya Laila Definia Salsabila, delegasi Indonesia dalam ASEAN Children and Youth Climate Summit 2025, menekankan bahwa suara anak muda juga dapat masuk dalam proses pengambilan keputusan yang berlangsung saat ini.
Dengan demikian, kegiatan tidak hanya membangun pemahaman peserta tentang perubahan iklim, tetapi juga memperkenalkan jalur keterlibatan publik yang dapat mereka gunakan untuk menyampaikan gagasan lingkungan.
Aksi Bersih Pantai Kumpulkan 495,25 Kilogram Sampah
Setelah mengikuti rangkaian diskusi, peserta membawa pembelajaran tersebut ke kawasan pesisir pada 20 September 2026. Dalam aksi bersih pantai di sekitar Taman Suroboyo, Surabaya, sekitar 150 peserta dari sejumlah SMA dan perguruan tinggi menyusuri kawasan pesisir untuk mengumpulkan serta memilah sampah.
Hasil kegiatan mencatat 495,25 kilogram sampah terkumpul. Peserta menemukan berbagai jenis sampah, mulai dari material organik dan anorganik hingga residu, termasuk plastik, kemasan sachet, limbah tekstil, serta potongan jaring.
Namun, kegiatan tersebut tidak sekadar mengangkat sampah dari pantai. Peserta juga memperoleh pengalaman langsung mengenai pentingnya pencegahan sampah dari sumbernya. Zidan, mahasiswa Teknik Lingkungan UPN, menilai edukasi masyarakat perlu berjalan bersama kegiatan pembersihan agar sampah tidak terus kembali ke kawasan pesisir.
Karena itu, rangkaian Cengkerama Iklim memperlihatkan hubungan antara pengetahuan dan praktik. Peserta memulai kegiatan dengan memahami persoalan lingkungan, menyusun gagasan, kemudian menguji kepedulian tersebut melalui aksi langsung di lapangan.
Bagi KLH/BPLH, pola kegiatan seperti ini membuka ruang bagi generasi muda untuk mengambil bagian dalam aksi lingkungan. Sementara bagi peserta, kondisi pantai menjadi pengalaman langsung bahwa pengelolaan sampah membutuhkan perubahan perilaku, edukasi, pemilahan, dan upaya pencegahan secara berkelanjutan.










Komentar