Sisipublik.com – Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI memperkuat kompetensi penggerak olahraga disabilitas di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Langkah ini bertujuan memperluas akses aktivitas fisik bagi penyandang disabilitas hingga tingkat masyarakat.
Penguatan tersebut berlangsung melalui kegiatan olahraga dan Training of Trainer (ToT) Penggerak Olahraga Disabilitas Berdaya di DIY, Minggu (6/9/2026). Program itu menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem olahraga yang inklusif dan berkelanjutan.
Kemenpora menilai penggerak olahraga disabilitas memiliki peran penting dalam mengajak dan mendampingi penyandang disabilitas agar aktif bergerak. Karena itu, mereka perlu menguasai kemampuan teknis sekaligus memahami kebutuhan peserta.
Penggerak Olahraga Disabilitas Perlu Pahami Kebutuhan Peserta
Asisten Deputi Olahraga Masyarakat Kemenpora Yayat Suyatna mengatakan setiap orang memiliki hak untuk bergerak dan berolahraga. Oleh sebab itu, tenaga penggerak perlu hadir untuk memberikan dukungan yang sesuai.
Yayat juga menekankan pentingnya kemampuan beradaptasi dengan karakteristik masing-masing penyandang disabilitas. Pendampingan yang tepat dapat membantu peserta mengikuti aktivitas olahraga sesuai kondisi dan kebutuhannya.
Selain kemampuan teknis, para penggerak perlu membangun komunikasi dengan berbagai pihak. Sekolah luar biasa (SLB), komunitas, pemerintah daerah, dan organisasi olahraga menjadi bagian dari jejaring yang dapat memperluas jangkauan program.
Dengan kolaborasi tersebut, akses aktivitas fisik dapat menjangkau lebih banyak penyandang disabilitas. Terlebih, masih terdapat masyarakat yang belum memperoleh kesempatan berolahraga secara memadai.
Ruang Publik Didorong Lebih Inklusif
Kemenpora juga mendorong pemanfaatan ruang publik sebagai sarana aktivitas fisik masyarakat. Dengan demikian, ruang publik tidak hanya berfungsi sebagai tempat rekreasi, tetapi juga dapat mendukung kegiatan olahraga yang bisa diikuti berbagai kelompok.
Di sisi lain, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga DIY Raden Suci Rohmadi memandang ToT tersebut sebagai bagian dari gerakan memperkuat olahraga yang inklusif dan berkeadilan.
Menurut Suci, olahraga tidak hanya berkaitan dengan kebugaran fisik. Aktivitas tersebut juga dapat membantu membangun kepercayaan diri dan membuka ruang kesetaraan bagi masyarakat.
Karena itu, peserta ToT mendapat dorongan untuk mengikuti perkembangan teknologi, metode pelatihan, serta sistem pembinaan olahraga. Namun, penerapan berbagai perkembangan tersebut tetap perlu berjalan bersama nilai kemanusiaan.
Kompetensi Penggerak Jadi Fondasi Olahraga Inklusif
Melalui pelatihan tersebut, Kemenpora berharap semakin banyak pelatih, penggerak, dan pendamping yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan olahraga disabilitas.
Selanjutnya, penguatan kapasitas tersebut diharapkan mendorong terbentuknya budaya olahraga yang lebih inklusif. Masyarakat pun memiliki lebih banyak ruang untuk menjaga kebugaran tanpa membedakan kondisi fisik.
Dalam jangka panjang, perluasan aktivitas olahraga masyarakat dapat mendukung terbentuknya masyarakat yang lebih aktif dan bugar. Kemenpora juga melihat budaya olahraga yang kuat sebagai salah satu fondasi untuk mendukung perkembangan prestasi olahraga nasional.











Komentar