Cabai Tahan Kutudaun Jadi Fokus BRIN, Inovasi Baru untuk Tingkatkan Produktivitas Petani

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 29 Juni 2026 - 19:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Cabai Tahan Kutudaun Jadi Fokus BRIN, Inovasi Baru untuk Tingkatkan Produktivitas Petani (foto: ipb)

Cabai Tahan Kutudaun Jadi Fokus BRIN, Inovasi Baru untuk Tingkatkan Produktivitas Petani (foto: ipb)

Sisipublik.com – Cabai tahan kutudaun menjadi salah satu fokus pengembangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) guna menjaga produktivitas pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional. Upaya tersebut juga membuka peluang mengurangi penggunaan pestisida sehingga budidaya cabai menjadi lebih efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

Cabai selama ini menjadi komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi tinggi di Indonesia. Selain memenuhi kebutuhan masyarakat, perubahan harga cabai sering memengaruhi inflasi pangan. Karena itu, peningkatan produktivitas tanaman menjadi langkah penting untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga di pasar.

Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Hortikultura Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Ady Daryanto, menegaskan bahwa cabai tahan kutudaun menawarkan solusi jangka panjang dibandingkan penggunaan pestisida secara terus-menerus. Menurutnya, perubahan iklim dan meningkatnya serangan organisme pengganggu tanaman membuat petani membutuhkan varietas yang memiliki ketahanan alami.

Cabai Tahan Kutudaun Dukung Pertanian Berkelanjutan

Ady menjelaskan bahwa kutudaun (Aphis gossypii) termasuk hama utama yang sering merusak tanaman cabai. Serangga tersebut mengisap cairan tanaman sehingga pertumbuhan terganggu. Selain itu, kutudaun menghasilkan embun madu yang memicu munculnya jamur jelaga serta menjadi pembawa berbagai virus berbahaya pada tanaman cabai dan keluarga Solanaceae.

Oleh sebab itu, BRIN mengembangkan pendekatan pemuliaan tanaman melalui mekanisme ketahanan alami. Tanaman sebenarnya memiliki dua sistem pertahanan, yakni antixenosis yang mengurangi ketertarikan hama terhadap tanaman dan antibiosis yang menghambat perkembangan hama setelah menyerang tanaman.

Baca Juga :  Minapadi Salin BRIN Dorong Ketahanan Pangan dan Ekonomi Pesisir di Batang

Tim peneliti memilih mekanisme antibiosis karena mampu menekan pertumbuhan populasi kutudaun secara lebih efektif. Pendekatan tersebut di harapkan mampu menghasilkan varietas cabai yang lebih kuat menghadapi serangan hama tanpa bergantung pada bahan kimia.

BRIN Temukan Genotipe Berpotensi Unggul

Dalam penelitian tersebut, BRIN menguji tujuh genotipe cabai untuk mencari sumber ketahanan terhadap kutudaun. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa genotipe C20 dan C367 mampu menghambat perkembangan populasi hama secara konsisten.

Kedua genotipe tersebut memiliki peluang besar menjadi sumber sifat ketahanan dalam program pemuliaan tanaman cabai pada masa mendatang. Temuan ini memberi dasar ilmiah bagi pengembangan varietas unggul yang produktif sekaligus memiliki perlindungan alami terhadap serangan hama.

Selanjutnya, tim peneliti mengembangkan tiga metode pengujian berbasis no-choice test, yaitu seedling cage, detached leaf, dan clip cage. Seluruh metode tersebut mengevaluasi perkembangan populasi kutudaun selama tujuh hari setelah infestasi.

Hasil pengujian memperlihatkan tingkat heritabilitas yang sangat tinggi, yakni sekitar 90 hingga 91 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa sifat ketahanan lebih banyak di pengaruhi faktor genetik di bandingkan kondisi lingkungan.

Metode Clip Cage Dinilai Paling Efektif

Di antara seluruh metode yang diuji, metode clip cage memberikan hasil paling praktis sekaligus andal. Teknik ini memungkinkan pengamatan di lakukan pada daun yang tetap menempel pada tanaman sehingga kondisi tanaman tetap alami dan risiko kerusakan selama penelitian menjadi lebih kecil.

Baca Juga :  Laptop Gaming iGame Origo Resmi Meluncur, Usung AI Cerdas dan Performa

Selain itu, penelitian juga menemukan bahwa ketahanan terhadap kutudaun merupakan karakter kuantitatif yang di kendalikan banyak gen dengan interaksi yang cukup kompleks. Meski demikian, pengaruh gen aditif yang cukup kuat memberikan peluang besar bagi pemulia tanaman untuk meningkatkan sifat ketahanan melalui proses seleksi pada generasi F4 hingga F6.

Temuan tersebut menjadi modal penting dalam menghasilkan varietas cabai yang tidak hanya memiliki produktivitas tinggi, tetapi juga lebih tangguh menghadapi serangan hama di lapangan.

Perkuat Ketahanan Pangan Nasional

Melalui inovasi tersebut, BRIN berharap mampu menghadirkan varietas cabai tahan kutudaun yang mendukung pengendalian hama terpadu secara lebih ramah lingkungan. Pengembangan varietas unggul juga dapat membantu petani mengurangi ketergantungan terhadap pestisida sekaligus meningkatkan efisiensi biaya budidaya.

Ke depan, hasil penelitian ini di harapkan mampu meningkatkan produktivitas cabai nasional, menjaga kestabilan pasokan, serta membantu mengendalikan fluktuasi harga. Dengan demikian, penguatan sektor hortikultura dapat memberikan kontribusi nyata terhadap ketahanan pangan Indonesia secara berkelanjutan. (j/*)

Berita Terkait

Teknologi MAS Bantu Jaga Mutu Benih Bawang Merah, BRIN Temukan Metode Penyimpanan Paling Efektif
BRIN Kembangkan Teknologi Deteksi Halal untuk Perkuat Inovasi Pangan dan Industri Nasional
Pemanfaatan Limbah Industri Dorong Inovasi Pertanian dan Kelestarian Lingkungan
Deteksi Gula Darah Tanpa Jarum Dorong Inovasi Teknologi Kesehatan BRIN
Keanekaragaman Nepenthes Indonesia Jadi Warisan Berharga, Jejak Prof. Mansur Jaga Kantong Semar
Laboratorium Fisika dan Kimia Canggih BRIN Buka Peluang Kolaborasi, Mahasiswa AKA Bogor Dapat Wawasan Baru
Inovasi BRIN Ubah Limbah Sawit dan Styrofoam Menjadi Solusi Bahan Bakar Kapal Ramah Lingkungan
Teknologi Baterai Kendaraan Listrik Makin Canggih, BRIN Ternyata Sedang Garap Inovasi Ini
Berita ini 3 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Kamis, 2 Juli 2026 - 08:00 WIB

Teknologi MAS Bantu Jaga Mutu Benih Bawang Merah, BRIN Temukan Metode Penyimpanan Paling Efektif

Selasa, 30 Juni 2026 - 19:58 WIB

BRIN Kembangkan Teknologi Deteksi Halal untuk Perkuat Inovasi Pangan dan Industri Nasional

Senin, 29 Juni 2026 - 19:00 WIB

Cabai Tahan Kutudaun Jadi Fokus BRIN, Inovasi Baru untuk Tingkatkan Produktivitas Petani

Sabtu, 27 Juni 2026 - 06:00 WIB

Pemanfaatan Limbah Industri Dorong Inovasi Pertanian dan Kelestarian Lingkungan

Jumat, 26 Juni 2026 - 10:06 WIB

Deteksi Gula Darah Tanpa Jarum Dorong Inovasi Teknologi Kesehatan BRIN

Berita Terbaru