Sisipublik.com – Pengembangan tebu kini menjadi salah satu fokus Kementerian Pertanian (Kementan) untuk memperkuat pasokan bahan baku industri bioetanol. Pemerintah menyiapkan pengembangan areal hingga sekitar 1 juta hektare sekaligus mendorong peningkatan produktivitas agar pasokan bahan baku berjalan berkelanjutan.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan pemerintah tidak cukup hanya membangun fasilitas pengolahan bioetanol. Karena itu, Kementan lebih dahulu memperkuat kawasan produksi dan memastikan ketersediaan bahan baku dari sektor pertanian.
Pengembangan tebu untuk bioetanol
Pengembangan tebu untuk bioetanol menjadi bagian dari langkah pemerintah membangun sumber energi berbasis komoditas dalam negeri. Kementan memetakan potensi areal tebu hingga 1 juta hektare dengan potensi produktivitas bioetanol sekitar 6.000 liter per hektare.
Selain memperluas areal, Kementan mendorong peningkatan produktivitas, penggunaan benih bermutu, serta dukungan sarana dan teknologi. Dengan demikian, perluasan kawasan dapat berjalan seiring dengan kemampuan produksi bahan baku.
Plt. Direktur Jenderal Perkebunan Kementan Heru Tri Widarto mengatakan pengembangan tebu harus memperhatikan kesesuaian lahan dan produktivitas. Menurut dia, pemerintah ingin membangun rantai pasok yang terintegrasi dari kawasan perkebunan hingga industri pengolahan.
Kementan membahas pengembangan dan perluasan areal tebu untuk penyediaan pabrik bioetanol dalam rapat di Bogor pada 19 September 2026. Pemerintah kemudian menghubungkan pembahasan tersebut dengan kesiapan budidaya, produktivitas, bahan baku, dan kebutuhan industri.
Kementan Hubungkan Areal Tebu dengan Kesiapan Industri
Kementan melibatkan sejumlah pihak dalam proses tersebut, antara lain PT Perkebunan Nusantara (PTPN), PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), Perum Perhutani, Riset Perkebunan Nusantara (RPN), dan Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian (PSEKP). Kolaborasi itu bertujuan menyelaraskan kesiapan lahan dengan kebutuhan industri bioetanol.
Langkah tersebut juga mengikuti arahan Presiden Prabowo Subianto setelah pemerintah membahas pengembangan biofuel dalam rapat terbatas pada September 2026. Pemerintah mendorong pemanfaatan sumber daya domestik untuk memperkuat ketahanan energi.
Di sisi lain, Kementan tidak hanya mengandalkan tebu. Pemerintah juga menyiapkan singkong dan jagung sebagai sumber bahan baku bioetanol. Untuk ketiga komoditas tersebut, pemerintah menyiapkan pengembangan lahan hingga sekitar 2 juta hektare.
Mentan Amran juga mengonsolidasikan dukungan dari 44 bupati untuk mempercepat pengembangan kawasan bioetanol. Pemerintah daerah diminta memetakan potensi lahan dan komoditas sesuai kondisi wilayah masing-masing.
Dengan pola tersebut, pemerintah menempatkan ketersediaan bahan baku sebagai bagian penting dalam pengembangan industri bioetanol. Penguatan sektor hulu diharapkan dapat menjaga kesinambungan pasokan ketika kapasitas industri pengolahan berkembang.
Pengembangan kawasan tetap memperhatikan kesesuaian lahan dan aspek lingkungan. Kementan menyatakan penyiapan lahan harus berjalan dengan memperhatikan legalitas serta kondisi teknis kawasan.











Komentar