Sisipublik.com – Pemerintah mulai menerapkan Bea Masuk 0 Persen untuk impor liquefied petroleum gas (LPG) bagi industri petrokimia dan bahan baku plastik. Kebijakan tersebut masuk dalam paket stimulus ekonomi semester II 2026 yang bertujuan menjaga stabilitas harga sekaligus mengurangi beban biaya produksi di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menjelaskan pemerintah mengambil langkah tersebut sesuai arahan Presiden. Selain itu, pemerintah ingin memastikan industri memiliki akses terhadap bahan baku alternatif pengganti nafta yang harganya terus bergejolak akibat situasi internasional.
Bea Masuk 0 Persen Diharapkan Tekan Biaya Produksi
Bea Masuk 0 Persen menjadi salah satu upaya pemerintah untuk menjaga daya saing industri dalam negeri. Sebelumnya, tarif impor LPG untuk industri petrokimia berada di angka 5 persen. Kini, pemerintah menghapus pungutan tersebut agar pelaku usaha dapat memperoleh bahan baku dengan biaya lebih rendah.
Di sisi lain, kenaikan harga LPG di pasar global yang dipicu konflik di kawasan Timur Tengah turut mendorong pemerintah mengambil langkah antisipatif. Dengan insentif tersebut, pemerintah berharap pelaku industri mampu mempertahankan harga produk agar tidak membebani konsumen.
Airlangga mengatakan kebijakan ini berpotensi menghasilkan manfaat ekonomi hingga Rp2,25 triliun. Nilai tersebut berasal dari penurunan biaya produksi serta efek pengganda yang dapat mendorong aktivitas ekonomi di berbagai sektor.
Bea Masuk 0 Persen untuk Bahan Baku Plastik Jaga Harga Kemasan
Selain LPG, pemerintah juga menetapkan Bea Masuk 0 Persen untuk impor bahan baku plastik. Kebijakan ini bertujuan menjaga kestabilan harga produk plastik yang selama ini masih menjadi komponen utama kemasan berbagai produk makanan dan kebutuhan sehari-hari.
Sementara itu, kenaikan harga nafta sebagai bahan baku industri plastik ikut memengaruhi biaya produksi. Karena itu, pemerintah ingin mencegah lonjakan harga produk plastik di pasar domestik.
Menurut Airlangga, ketersediaan bahan baku dengan tarif impor nol persen dapat membantu menekan laju inflasi. Pasalnya, sebagian besar produk makanan menggunakan kemasan plastik sehingga perubahan harga bahan baku berpotensi memengaruhi harga barang konsumsi.
Pemerintah Perkuat Industri Penerbangan dan MRO
Tidak hanya sektor petrokimia dan plastik, pemerintah juga memperluas insentif ke industri penerbangan. Dalam paket stimulus yang sama, Langkah tersebut bertujuan meningkatkan daya saing industri maintenance, repair, and operations (MRO) di dalam negeri. Dengan biaya impor yang lebih rendah, pemerintah berharap industri perawatan pesawat nasional dapat berkembang sekaligus mendukung kebutuhan sektor penerbangan yang terus meningkat.
Melalui berbagai insentif tersebut, pemerintah berupaya menjaga stabilitas ekonomi nasional, menekan inflasi, serta memperkuat daya saing industri strategis di tengah dinamika ekonomi global. (j/*)










Komentar