Hari Batik Nasional 2026 Soroti Regenerasi Perajin di Tengah Perubahan Pasar

- Jurnalis

Kamis, 1 Oktober 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Pameran Hari Batik Nasional 2026 di Surabaya menjadi bagian dari upaya memperkuat industri batik sekaligus mendorong regenerasi perajin dan keterlibatan generasi muda (foto: kementerian perindustrian)

Pameran Hari Batik Nasional 2026 di Surabaya menjadi bagian dari upaya memperkuat industri batik sekaligus mendorong regenerasi perajin dan keterlibatan generasi muda (foto: kementerian perindustrian)

Sisipublik.com – Hari Batik Nasional 2026 menjadi momentum Kementerian Perindustrian untuk menyoroti persoalan regenerasi perajin yang menjadi salah satu tantangan keberlanjutan industri batik. Pemerintah menilai pertumbuhan pasar batik perlu berjalan seiring dengan keberlangsungan keterampilan membatik agar perkembangan industri tidak hanya bertumpu pada motif dan produk, tetapi juga pada sumber daya manusia yang menjaga proses pembuatannya.

Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menyampaikan perhatian tersebut saat membuka Pameran Hari Batik Nasional 2026 di Surabaya, Rabu (30/9). Menurut dia, batik memiliki posisi penting karena memadukan nilai budaya dengan aktivitas ekonomi yang melibatkan masyarakat di berbagai daerah.

Persoalan regenerasi semakin penting karena Hari Batik Nasional 2026 berlangsung ketika penggunaan batik semakin luas, termasuk di kalangan generasi muda. Namun, pertumbuhan minat konsumen belum sepenuhnya sejalan dengan ketersediaan perajin. Berdasarkan data Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI) yang disampaikan dalam agenda tersebut, jumlah perajin batik turun sekitar 20 persen dari 131 ribu orang pada 2019 menjadi 105 ribu orang pada 2023.

Regenerasi Menentukan Keberlanjutan Batik

Faisol mengatakan keterampilan membatik membutuhkan keahlian tangan yang terbentuk melalui proses dan pengalaman. Karena itu, berkurangnya jumlah perajin dapat memengaruhi keberlanjutan keterampilan yang selama ini berkembang secara turun-temurun.

Pemerintah kemudian mendorong generasi muda untuk tidak hanya mengenakan batik, tetapi juga mengenal proses pembuatannya. Langkah tersebut penting karena keberadaan konsumen dan keberadaan perajin saling berkaitan dalam membangun ekosistem industri.

Selain itu, Kemenperin menjalankan pembinaan sumber daya manusia melalui bimbingan teknis, pendampingan, seminar, dan talkshow. Program tersebut melengkapi dukungan lain bagi IKM batik, termasuk fasilitasi Batikmark, pengembangan produk, serta peningkatan kapasitas usaha. Kemenperin juga menyebut regenerasi perajin sebagai bagian dari agenda pengembangan industri batik yang berkelanjutan.

Baca Juga :  Pelatihan Kerja Sukabumi Siapkan 1.600 Peserta, 11 Jenis Keterampilan Dibuka

Batik Tidak Cukup Dinilai dari Motif

Tantangan lain muncul dari semakin berkembangnya kain bermotif batik yang diproduksi menggunakan teknik printing. Teknologi memungkinkan produk tersebut hadir dengan harga lebih terjangkau dan tampilan yang semakin beragam.

Kondisi itu membuat edukasi konsumen menjadi semakin penting. Masyarakat perlu memahami bahwa batik tidak hanya berkaitan dengan motif yang terlihat pada permukaan kain, tetapi juga proses pembuatan, keterampilan perajin, serta nilai budaya yang menyertainya.

Karena itu, pemerintah mendorong pemahaman yang lebih baik mengenai karakteristik produk batik. Langkah tersebut dapat membantu konsumen membedakan produk berdasarkan proses dan kualitas, sekaligus memberi ruang yang lebih besar bagi perajin yang mempertahankan keterampilan membatik.

Diversifikasi Membuka Ruang bagi IKM Batik

Di sisi lain, Kemenperin mendorong IKM batik menyesuaikan produk dengan perkembangan kebutuhan konsumen. Diversifikasi dapat dilakukan melalui fesyen siap pakai, aksesori, hingga produk kriya yang mengadaptasi batik untuk kebutuhan sehari-hari.

Kolaborasi dengan desainer dan akademisi juga dapat membantu pelaku IKM mengembangkan produk tanpa menghilangkan identitas budaya. Dengan pendekatan tersebut, batik dapat mengikuti perubahan tren sekaligus mempertahankan karakter daerah yang menjadi kekuatannya.

Kemenperin sebelumnya juga menyampaikan bahwa pengembangan IKM batik mencakup peningkatan kapasitas produksi, inovasi, akses pasar, sertifikasi, pelindungan indikasi geografis, serta pengembangan sumber daya manusia.

Batikmark Perkuat Jaminan Mutu Produk

Selain pengembangan produk, standardisasi menjadi bagian lain yang mendapat perhatian. Kemenperin menggunakan Batikmark sebagai salah satu instrumen untuk mendukung pengenalan karakteristik dan mutu produk batik kepada konsumen.

Baca Juga :  Kerja Sama Industri Indonesia-Bulgaria Bidik Investasi dan Akses Pasar Eropa

Penerapan standar dapat membantu pelaku usaha menjaga konsistensi mutu. Pada saat yang sama, konsumen memperoleh informasi yang lebih jelas mengenai produk yang mereka beli.

Upaya tersebut sejalan dengan kebutuhan industri untuk membangun kepercayaan pasar. Dengan demikian, pelestarian batik tidak berhenti pada penggunaan motif, tetapi juga menyentuh kualitas produk, keterampilan manusia, dan keberlanjutan usaha.

HBN 2026 Perluas Ruang Interaksi dengan Generasi Muda

Rangkaian Hari Batik Nasional 2026 di Surabaya berlangsung pada 30 September hingga 4 Oktober di Atrium Plaza Tunjungan 3. Agenda tersebut melibatkan lebih dari 40 peserta dan menghadirkan pameran, workshop, talkshow, serta kegiatan edukasi lainnya.

Rangkaian kegiatan juga terhubung dengan Industrial Fest 2026. Salah satu agenda pada 1 Oktober mengangkat tema transformasi digital, keberlanjutan, dan ketangguhan industri. Sementara itu, pada 2 Oktober, Kemenperin menjadwalkan kuliah umum yang membahas peran generasi Z dalam menghadapi tantangan industri masa depan.

Melalui berbagai kegiatan tersebut, pemerintah berupaya mendekatkan batik dengan kehidupan generasi muda. Pendekatan itu penting karena keberlanjutan industri tidak hanya membutuhkan pasar baru, tetapi juga generasi baru yang mampu meneruskan keterampilan membatik.

Batik Indonesia sendiri telah memperoleh pengakuan UNESCO pada 2009 sebagai warisan budaya takbenda, sementara pemerintah menetapkan 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 33 Tahun 2009.

Karena itu, tantangan batik pada masa depan tidak hanya berkaitan dengan bagaimana masyarakat terus menggunakan produknya. Industri juga perlu memastikan keterampilan membatik tetap berkembang, perajin memperoleh ruang ekonomi yang memadai, dan inovasi mampu mempertemukan nilai budaya dengan kebutuhan pasar.

Berita Terkait

Revitalisasi Sekolah di Bali Naik Jadi 401 Unit, Perbaikan Infrastruktur Dukung Kenyamanan Belajar
Bhumi ATR/BPN Bantu Cek Peta Bidang Tanah, Ini Batasan Informasi yang Perlu Dipahami
Digitalisasi Bansos Perkuat Verifikasi Penerima, Kemensos Buka Akses Pengawasan Data
SMA Unggul Garuda Perluas Akses Sekolah Unggulan hingga Empat Daerah
Kedelai Grobogan Ditargetkan Tembus 3 Ton per Hektare, Kementan Siapkan Ekspansi Lahan
Prabowo Lantik Empat Wakil Menteri, Dua Perkuat Sektor Pertahanan
Swasembada Beras Perkuat Ketahanan Pangan, Pemerintah Benahi Distribusi Pupuk
Transformasi PLN Jadi Prioritas, Prabowo Dorong Efisiensi dan Energi Surya 100 GW
Berita ini 9 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 19 Oktober 2026 - 17:40 WIB

Revitalisasi Sekolah di Bali Naik Jadi 401 Unit, Perbaikan Infrastruktur Dukung Kenyamanan Belajar

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 13:00 WIB

Bhumi ATR/BPN Bantu Cek Peta Bidang Tanah, Ini Batasan Informasi yang Perlu Dipahami

Jumat, 16 Oktober 2026 - 21:00 WIB

Digitalisasi Bansos Perkuat Verifikasi Penerima, Kemensos Buka Akses Pengawasan Data

Jumat, 16 Oktober 2026 - 16:27 WIB

SMA Unggul Garuda Perluas Akses Sekolah Unggulan hingga Empat Daerah

Jumat, 16 Oktober 2026 - 09:00 WIB

Kedelai Grobogan Ditargetkan Tembus 3 Ton per Hektare, Kementan Siapkan Ekspansi Lahan

Berita Terbaru