Sisipublik.com – Perluasan pasar ekspor menjadi salah satu strategi Indonesia untuk menarik investasi yang berorientasi pada produksi dan perdagangan global. Menteri Perdagangan Budi Santoso menilai semakin luas akses produk Indonesia ke pasar internasional, semakin besar pula peluang investor menjadikan Indonesia sebagai basis produksi.
Budi menyampaikan hal tersebut saat membuka Asian Trade, Tourism, and Economics Council (ATTEC) Global Investment Forum di Jakarta, Jumat, 18 September 2026. Forum tersebut menjadi bagian dari Jakarta International Investment, Trade, Tourism, and SMEs Expo (JITEX) 2026 yang berlangsung pada 16–19 September 2026.
Perluasan Pasar Ekspor Buka Peluang Investasi
Perluasan pasar ekspor menurut Budi memiliki kaitan langsung dengan peluang investasi baru. Ketika akses pasar semakin terbuka, perusahaan memiliki ruang lebih besar untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus membangun rantai pasok di Indonesia.
Karena itu, pemerintah terus menggunakan kerja sama perdagangan sebagai salah satu instrumen untuk membuka akses pasar. Kemendag mencatat Indonesia telah menerapkan 25 perjanjian perdagangan, sementara dua perjanjian berada dalam proses ratifikasi dan 13 lainnya masih dalam tahap negosiasi.
Budi mengatakan perjanjian perdagangan tidak hanya mendukung aktivitas ekspor dan impor. Menurut dia, kepastian akses pasar juga dapat menciptakan peluang bagi investor yang ingin membangun kegiatan produksi untuk memenuhi permintaan pasar luar negeri.
Forum Bisnis Dorong Pertemuan Investor dan Pelaku Usaha
Selanjutnya, pemerintah memanfaatkan forum bisnis seperti ATTEC untuk mempertemukan pelaku usaha, mitra dagang, dan investor. Pertemuan tersebut diharapkan menghasilkan kerja sama yang memperkuat perdagangan sekaligus membuka peluang investasi baru.
Pendekatan itu menempatkan perdagangan dan investasi dalam satu rangkaian. Produk yang memiliki peluang pasar ekspor dapat mendorong kebutuhan terhadap kapasitas produksi, sementara investasi pada sektor produksi dapat memperkuat kemampuan Indonesia memenuhi permintaan pasar internasional.
Dengan demikian, penguatan akses pasar tidak hanya menyasar peningkatan nilai perdagangan, tetapi juga peluang Indonesia mengambil peran lebih besar dalam rantai pasok global.
UMKM Mulai Didorong Masuk Pasar Global
Selain perusahaan berskala besar, Kemendag juga memperluas akses UMKM ke pasar internasional melalui program UMKM Berani Inovasi, Siap Adaptasi Ekspor (UMKM BISA Ekspor).
Program tersebut menyediakan sejumlah fasilitasi, mulai dari kurasi produk, pencarian calon pembeli, business matching, pendampingan desain, hingga dukungan perwakilan perdagangan Indonesia di negara tujuan ekspor. Pada Januari–Agustus 2026, program UMKM BISA Ekspor mencatat nilai transaksi ekspor sebesar USD 347 juta. Sebagian besar transaksi tersebut berasal dari UMKM yang sebelumnya belum pernah melakukan ekspor.
Capaian tersebut menunjukkan upaya pemerintah tidak hanya menyasar perusahaan yang sudah memiliki pengalaman ekspor. Kemendag juga membuka jalur bagi pelaku UMKM untuk mengenal pasar internasional dan membangun hubungan dengan calon mitra dagang.
TEI 2026 Jadi Kesempatan Memperluas Mitra Dagang
Untuk mempertemukan eksportir dengan calon pembeli, Budi mengajak pelaku usaha memanfaatkan Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 14–18 Oktober 2026.
Kemendag menempatkan TEI sebagai salah satu momentum bagi eksportir, termasuk UMKM, untuk memperluas pasar dan mencari mitra dagang.
Di sisi lain, pemerintah juga membuka akses UMKM ke pasar domestik. Kemendag bekerja sama dengan Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO) untuk memperluas pemasaran produk lokal melalui jaringan ritel modern.
Produk UMKM yang memenuhi standar kualitas dan memiliki daya saing dapat memperoleh kesempatan masuk ke jaringan ritel tersebut. Langkah ini melengkapi strategi perluasan pasar yang tidak hanya mengandalkan ekspor, tetapi juga memperkuat penjualan di dalam negeri.
Ketua Umum HIPPINDO Budihardjo Iduansjah mengatakan ATTEC menjadi forum yang mempertemukan perdagangan, pariwisata, investasi, dan UMKM. HIPPINDO juga melihat peluang kerja sama investasi, termasuk pengembangan kawasan ekonomi dan industri yang dapat berjalan bersama dengan penyediaan hunian bagi pekerja.
Melalui kombinasi perluasan akses ekspor, penguatan UMKM, forum bisnis, dan pembukaan pasar domestik, pemerintah berupaya menciptakan ekosistem yang menghubungkan perdagangan dengan kegiatan investasi.











Komentar