Sisipublik.com – Sumur bor Bowi Subur mulai mengubah rutinitas keluarga di kawasan transmigrasi SP6, Kampung Bowi Subur, Distrik Masni, Manokwari, Papua Barat. Sebelumnya, keluarga Ishak Krey harus berjalan sekitar 350 meter menuju sungai di belakang rumah untuk memenuhi kebutuhan minum, memasak, dan mandi karena air di sekitar rumah berwarna kuning.
Kondisi tersebut mendorong Tim 8 Ekspedisi Patriot Universitas Airlangga (UNAIR) memetakan akses air dan sanitasi warga. Tim menyurvei lebih dari 100 rumah dengan pendekatan Surveilans Kualitas Air Minum Rumah Tangga (SKAMRT) berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG).
Pemetaan sumur bor Bowi Subur tidak hanya mencatat sumber air warga, tetapi juga membantu tim melihat wilayah yang paling membutuhkan intervensi. Tim menemukan warga menggunakan beragam sumber air, mulai dari sungai, air hujan, sumur gali, hingga sumur bor dangkal dan dalam. UNAIR juga mencatat persoalan kualitas serta keterbatasan pasokan air telah berlangsung sejak kawasan tersebut menjadi lokasi transmigrasi pada 1985.
Sumur Bor Bowi Subur Berangkat dari Data Lapangan
Tim 8 menggunakan hasil pemetaan untuk menentukan lokasi pengeboran. Selain mempertimbangkan kebutuhan warga, tim juga berkoordinasi dengan kepala kampung agar penentuan titik sarana air dapat berjalan melalui musyawarah.
Pengeboran pada salah satu titik telah menembus lebih dari 10 meter. Tim menargetkan kedalaman sekitar 40–50 meter agar sumber air dapat mengalir secara artesis sehingga warga tidak perlu mengandalkan pompa.
Bagi keluarga Ishak Krey, perubahan itu terasa langsung. Ia mengatakan keluarganya tidak lagi harus berjalan ke sungai untuk memenuhi kebutuhan air seperti sebelumnya.
“Saya sekeluarga merasa terbantu dengan adanya sumur bor karena di sini airnya kuning dan harus mengambil sungai di belakang untuk kebutuhan sehari-hari.”
Ishak juga menyebut ketersediaan air membuka peluang bagi warga untuk menyediakan kamar mandi bagi petani yang bekerja di sekitar lokasi penggilingan padi. Dengan begitu, kebutuhan air dan sanitasi warga tidak lagi sepenuhnya bergantung pada sungai.
Pemetaan Air Sekaligus Menilai Sanitasi Warga
Selain memetakan sumber air, Tim 8 Ekspedisi Patriot UNAIR menilai kondisi sanitasi masyarakat di 13 jalur permukiman SP6. Tim juga mengambil sampel air untuk pemeriksaan laboratorium sebagai bagian dari upaya memperoleh gambaran kualitas air secara lebih objektif.
Hasil survei tersebut menjadi dasar untuk mempertimbangkan sejumlah solusi sesuai kondisi setempat. UNAIR menyebut alternatifnya mencakup sumur bor komunal, media filtrasi air, serta sistem penampungan air hujan.
Pendekatan itu membuat pembangunan sarana air tidak berhenti pada pengeboran. Data lapangan dapat membantu menentukan bentuk intervensi yang sesuai dengan kebutuhan warga dan kondisi lingkungan.
Bagi masyarakat Bowi Subur, perubahan paling sederhana justru terlihat dari jarak yang harus mereka tempuh. Dari sebelumnya sekitar 350 meter menuju sungai, kini akses air dapat hadir lebih dekat dengan rumah.
Program tersebut juga mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan, khususnya SDG 6 tentang akses air bersih dan sanitasi. UNAIR menempatkan kegiatan pemetaan dan pengembangan sumber air sebagai bagian dari upaya memperbaiki layanan dasar di kawasan transmigrasi.











Komentar