Sisipublik.com – Sport tourism jadi sumber pendapatan menjadi salah satu fokus pemerintah dalam memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional. Menteri Pemuda dan Olahraga, Erick Thohir, menilai olahraga kini tidak lagi hanya berkaitan dengan prestasi atau kebutuhan anggaran. Sebaliknya, sektor ini memiliki peluang besar untuk menciptakan nilai ekonomi melalui pengembangan wisata olahraga di berbagai daerah.
Menurut Erick Thohir, Indonesia memiliki banyak potensi ekonomi yang belum tergarap secara maksimal. Selain sumber daya alam dan sektor industri, wisata olahraga juga mampu menjadi sumber pemasukan baru. Oleh karena itu, pemerintah mulai mendorong perubahan cara pandang seluruh pemangku kepentingan agar melihat olahraga sebagai industri yang memberikan manfaat luas.
Pada saat yang sama, sport tourism jadi sumber pendapatan juga menjadi strategi untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional hingga delapan persen. Erick menjelaskan, banyak negara telah membuktikan bahwa industri olahraga mampu meningkatkan pemasukan sekaligus memperkuat citra negara di tingkat internasional. Secara global, sektor wisata olahraga bahkan menghasilkan nilai ekonomi sekitar Rp9.800 triliun dengan pertumbuhan rata-rata mencapai delapan persen setiap tahun.
Sport Tourism Jadi Sumber Pendapatan Berpotensi Besar
Erick Thohir mengatakan Kementerian Pemuda dan Olahraga terus memperluas penyelenggaraan berbagai ajang olahraga, baik tingkat nasional maupun internasional. Langkah tersebut bertujuan menciptakan aktivitas ekonomi yang melibatkan banyak sektor sekaligus.
Selain meningkatkan jumlah wisatawan, penyelenggaraan kompetisi olahraga juga membuka peluang usaha bagi berbagai pelaku ekonomi. Industri perlengkapan olahraga, perhotelan, transportasi, kuliner hingga pelaku UMKM ikut menikmati dampak positif dari setiap kegiatan yang berlangsung.
Karena itu, pemerintah berharap semakin banyak daerah memanfaatkan event olahraga sebagai daya tarik wisata sekaligus penggerak ekonomi lokal.
Event Lari Mendorong Perputaran Ekonomi Daerah
Erick menyoroti perkembangan ajang lari yang terus meningkat di Indonesia. Saat ini terdapat sekitar 104 event lari yang tersebar di berbagai daerah dengan jumlah peserta mencapai sekitar 10,4 juta pelari.
Menurutnya, besarnya jumlah peserta tersebut menciptakan transaksi ekonomi yang cukup besar. Kebutuhan perlengkapan olahraga, terutama sepatu lari, menjadi salah satu contoh aktivitas ekonomi yang terus tumbuh seiring meningkatnya minat masyarakat mengikuti kompetisi.
Di sisi lain, ribuan peserta juga membutuhkan akomodasi, makanan, transportasi, hingga berbagai layanan lainnya. Kondisi tersebut membuat pelaku usaha lokal memperoleh tambahan pendapatan selama penyelenggaraan acara berlangsung.
Erick menambahkan, sejumlah kota yang sebelumnya bukan destinasi wisata utama kini berhasil menarik lebih banyak pengunjung berkat penyelenggaraan event olahraga, khususnya pada akhir pekan.
Sebagai contoh, ajang lari di Bandung berhasil mengundang sekitar 20 ribu peserta. Sementara itu, kegiatan serupa di Mandalika, Nusa Tenggara Barat, diikuti sekitar 10 ribu pelari. Kehadiran peserta tersebut ikut menggerakkan roda ekonomi masyarakat setempat.
Potensi Selancar Ikut Perkuat Wisata Olahraga
Tidak hanya lomba lari, Erick juga melihat peluang besar dari cabang olahraga lain. Salah satunya ialah selancar yang selama ini menjadi daya tarik wisatawan mancanegara berkat kualitas ombak dan pantai Indonesia.
Melalui pengembangan berbagai cabang olahraga, pemerintah ingin memperluas pilihan destinasi wisata berbasis aktivitas olahraga. Dengan demikian, manfaat ekonomi tidak hanya terpusat di satu wilayah, tetapi dapat dirasakan oleh lebih banyak daerah.
Selain melahirkan atlet berprestasi, pengembangan olahraga juga diharapkan mampu menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru yang berlangsung secara berkelanjutan.
Menutup keterangannya, Erick menegaskan Kementerian Pemuda dan Olahraga terus membangun kesamaan pandangan dengan seluruh pemangku kepentingan. Menurutnya, perubahan paradigma menjadi langkah penting agar olahraga berkembang sebagai industri yang menghasilkan manfaat ekonomi sekaligus memperkuat daya saing Indonesia. (j/*)










Komentar