Sisipublik.com – Kebijakan Program mandatori biodiesel 50 persen atau B50 mampu memberi dorongan besar bagi perekonomian nasional dan dapat menekan impor bahan bakar diesel sekaligus memperkuat cadangan devisa Indonesia.
Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI), Hadi Ismoyo, menyebut kebutuhan bahan bakar minyak nasional saat ini mencapai sekitar 1,63 juta barel per hari. Sementara kapasitas produksi kilang dalam negeri baru berada di angka 1,28 juta barel per hari.
Kondisi tersebut membuat Indonesia harus menutup kekurangan pasokan melalui impor sekitar 350 ribu barel per hari, sekitar 60 persen merupakan kebutuhan bahan bakar diesel atau solar.
Hadi menjelaskan, implementasi B50 secara luas dapat menggantikan kebutuhan impor solar karena komposisinya terdiri dari 50 persen biodiesel berbasis sawit dan 50 persen diesel konvensional.
“Jika program berjalan optimal di seluruh sektor, maka kebutuhan impor solar berpotensi tergantikan oleh pasokan B50 domestik,” ujarnya, Kamis (28/5/2026).
Ia memperkirakan kebutuhan diesel nasional mencapai 960 ribu barel per hari. Ketika produksi dalam negeri mampu memenuhi kebutuhan tersebut, pemerintah bisa menghemat anggaran energi dalam jumlah besar.
Mengacu pada harga internasional diesel sekitar US$1,58 per liter atau setara US$250 per barel, potensi penghematan devisa dari implementasi B50 di perkirakan mencapai Rp154 triliun per tahun.
Nilai itu meningkat sekitar Rp20 triliun di bandingkan estimasi penghematan sebelumnya yang berada di kisaran Rp134 triliun.
Meski optimistis terhadap keberhasilan program B50, Hadi tetap mengingatkan pemerintah agar tidak hanya fokus pada pengurangan impor diesel. Menurutnya, Indonesia masih menghadapi tantangan besar karena impor minyak mentah atau crude oil masih mencapai sekitar 1,2 juta barel per hari.
Ia mendorong pemerintah memperkuat strategi ketahanan energi nasional melalui pengurangan impor secara menyeluruh, termasuk mempercepat konversi energi menuju gas dan listrik. (j/*)










Komentar