Sisipublik.com – Produk lokal Danau Toba mendapat perhatian Kementerian Koperasi (Kemenkop) melalui penguatan ekosistem usaha berbasis koperasi. Kolaborasi dengan Komite Masyarakat Danau Toba (KMDT) tersebut menyasar komoditas seperti kopi, kacang sihobuk, kerajinan ulos, kuliner, serta potensi pariwisata di Sumatra Utara.
Menteri Koperasi Ferry Juliantono membahas rencana tersebut saat menerima Ketua Umum DPP KMDT Edison Manurung bersama pengurus dan Koperasi Pemasaran KMDT Sejahtera di Kantor Kemenkop, Jakarta, Kamis (1/10/2026). Pertemuan itu turut membahas penguatan koperasi sebagai wadah pengembangan usaha masyarakat di kawasan Danau Toba.
Produk lokal Danau Toba diarahkan masuk ekosistem koperasi
Produk lokal Danau Toba akan menjadi salah satu fokus pengembangan melalui kelembagaan koperasi. Kemenkop menyiapkan pola pendampingan yang mencakup pengembangan usaha, inkubasi, pelatihan, hingga peluang pembiayaan melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB).
Dengan pola tersebut, pelaku usaha tidak hanya mengandalkan produksi, tetapi juga memperoleh dukungan untuk mengembangkan kapasitas bisnis. Selain itu, koperasi dapat menjadi penghubung antara pelaku usaha di desa dengan akses pembiayaan dan pasar.
Ferry menyebut komoditas seperti kopi, kacang, tenun ulos, dan kuliner memiliki ruang untuk berkembang melalui koperasi. Karena itu, pemerintah ingin mendorong pengelolaan potensi ekonomi masyarakat agar berjalan lebih terorganisasi.
KMDT dorong pariwisata dan penguatan SDM
Di sisi lain, KMDT membawa agenda yang tidak hanya berfokus pada produk usaha. Organisasi tersebut juga mendorong pengembangan pariwisata serta peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui kerja sama dengan perguruan tinggi.
Edison menyebut KMDT telah menjalankan kolaborasi dengan Universitas HKBP Nommensen dan Universitas Sumatera Utara. Selanjutnya, pada 6 Oktober, KMDT menjadwalkan kuliah umum di Universitas Sisingamangaraja serta peninjauan Koperasi Desa Merah Putih di Kabupaten Toba.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa pengembangan ekonomi kawasan Danau Toba diarahkan tidak hanya pada komoditas, tetapi juga pada penguatan kapasitas masyarakat. Dengan demikian, pengembangan koperasi dapat berjalan beriringan dengan sektor pariwisata dan pendidikan.
Pendampingan UMKM menjadi bagian pengembangan
Kemenkop dan KMDT juga menyiapkan pendampingan berkala bagi pelaku UMKM yang tergabung dalam jaringan KMDT. Kopi, kacang sihobuk, dan tipa-tipa termasuk produk yang mendapat perhatian dalam agenda tersebut.
Pendampingan itu diharapkan membantu pelaku usaha meningkatkan kemampuan produksi dan pengelolaan bisnis. Selanjutnya, koperasi dapat menjadi wadah untuk memperkuat posisi produk masyarakat dalam rantai ekonomi lokal.
Ferry juga menyampaikan bahwa model pengembangan koperasi di Danau Toba ingin menjadi contoh bagi kawasan danau lainnya di Indonesia. Selain penguatan ekonomi masyarakat, pemerintah dan KMDT membahas target penyelenggaraan kembali Festival Danau Toba dalam satu hingga dua tahun mendatang.
Kolaborasi tersebut sekaligus memperluas arah pengembangan kawasan Danau Toba dari sektor pariwisata menuju ekosistem ekonomi yang melibatkan koperasi, UMKM, pendidikan, dan produk lokal.










Komentar