Sisipublik.com – Presiden Prabowo Subianto menyiapkan langkah antisipasi menghadapi fenomena El Nino yang di perkirakan mulai aktif di Indonesia pada Juni 2026 hingga Maret–Mei 2027.
Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), El Nino tahun ini berpotensi mencapai intensitas moderat hingga kuat. Kondisi ini dapat memicu musim kemarau yang lebih panjang dan lebih kering dari biasanya.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fatani, mengatakan Presiden meminta BMKG memperkuat operasi modifikasi cuaca (OMC) di berbagai wilayah untuk mengurangi dampak kekeringan dan menjaga ketahanan pangan nasional.
BMKG akan menjalankan OMC secara bertahap dengan fokus menjaga ketersediaan air di waduk, embung, dan daerah tangkapan air. Langkah ini menjadi penting karena puncak musim kemarau di prediksi terjadi pada Agustus hingga September 2026.
Selain ancaman kekeringan, BMKG juga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di enam provinsi rawan, terutama wilayah dengan lahan gambut seperti Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan.
Pemerintah kini memetakan titik panas (hotspot) di daerah rawan kebakaran bersama kementerian terkait dan pemerintah daerah. Fokus utama tidak hanya memadamkan api, tetapi juga mencegah kebakaran sebelum terjadi.
BMKG juga memanfaatkan data kondisi air tanah di lahan gambut untuk menentukan area berisiko tinggi. Jika permukaan air turun melewati batas aman, BMKG segera melakukan modifikasi cuaca guna meningkatkan kelembapan lahan.
Menurut BMKG, strategi pencegahan ini berhasil menekan angka kebakaran hutan secara signifikan di bandingkan beberapa tahun sebelumnya. Pemerintah berharap langkah antisipatif ini mampu mengurangi dampak El Nino terhadap lingkungan, pertanian, dan masyarakat. (j/*)










Komentar