Sisipublik.com – Minyak Atsiri Nusantara menjadi salah satu inovasi yang menarik perhatian masyarakat dalam pameran interaktif “BRIN Goes to Society: Nature, Science, and Future Experience” di Canal Plaza AEON Mall Sentul City, Kabupaten Bogor, pada 1-7 Juni 2026. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menampilkan berbagai hasil penelitian yang mengubah kekayaan hayati Indonesia menjadi produk siap pakai berbasis sains dan teknologi.
Selain teknologi penerbangan, BRIN memperkenalkan berbagai inovasi dari komoditas kemenyan dan rempah-rempah yang memiliki potensi ekonomi besar. Melalui pengembangan teknologi, komoditas lokal tersebut kini mampu menghasilkan produk bernilai tambah yang dapat bersaing di pasar internasional.
Minyak Atsiri Nusantara juga menjadi bagian dari upaya BRIN dalam meningkatkan nilai ekonomi sumber daya alam Indonesia. Periset BRIN, Aswandi, menjelaskan bahwa masyarakat selama ini belum memanfaatkan kemenyan secara optimal. Padahal, aroma alami kemenyan memiliki karakter lembut dan eksotis serta banyak di manfaatkan untuk kebutuhan aromaterapi.
Menurutnya, Indonesia termasuk eksportir utama kemenyan mentah dunia dengan volume sekitar 5.000 ton per tahun. Produk tersebut memasuki berbagai negara seperti Singapura, India, Korea Selatan, dan Prancis. Namun, sebagian besar masih berbentuk bahan baku sebelum di olah menjadi produk premium di luar negeri.
Minyak Atsiri Nusantara Melahirkan Produk Inovatif
Melalui pendekatan green chemistry, BRIN mengembangkan Signature Perfume berbasis ekstrak resin kemenyan dan telah mendaftarkan hak patennya. Tim peneliti juga menghasilkan parfum aromaterapi berbahan cengkeh dan pala, reed diffuser, serta serum wajah nano-emulsi berbahan alami Nusantara.
Aswandi mengungkapkan bahwa salah satu formulasi inovasi tersebut berhasil masuk 20 besar kompetisi inovasi produk tingkat internasional. Capaian itu menunjukkan bahwa komoditas lokal Indonesia memiliki daya saing yang kuat.
Selanjutnya, BRIN mengembangkan teknologi distilasi dan fraksinasi adaptif untuk meningkatkan kualitas produksi minyak atsiri. Teknologi tersebut membantu menghasilkan minyak dengan kandungan senyawa aktif yang lebih optimal dan mutu yang lebih konsisten.
Produk turunannya pun semakin beragam, mulai dari roll-on aromaterapi, sabun transparan sereh, hingga inhaler berbasis minyak eukaliptus.
Minyak Atsiri Nusantara Didorong Bersama Industri dan UMKM
BRIN juga mengembangkan teknologi nano-emulsi agar senyawa aktif minyak atsiri lebih mudah terserap. Teknologi tersebut melahirkan sejumlah produk hasil kolaborasi dengan mitra industri dan UMKM. Beberapa di antaranya berupa Solid Perfume Aromatherapy bersama PT Nano Herbaltama Internasional serta sabun artisan berbahan nanas lokal Prabumulih bersama UMKM Tanisani dari Sumatera Selatan.
Di samping itu, BRIN membuka akses layanan riset dan pengujian modern bagi masyarakat dan pelaku industri. Salah satunya melalui layanan analisis Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS) yang tersedia pada platform ELSA BRIN untuk mendukung standar mutu dan pemenuhan SNI.
Direktur Pemanfaatan Riset dan Inovasi pada Kementerian/Lembaga, Masyarakat, dan UMKM BRIN, Driszal Fryantoni, menegaskan bahwa pameran di pusat perbelanjaan menjadi strategi untuk mendekatkan hasil riset kepada masyarakat.
Menurutnya, riset harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Karena itu, BRIN membuka peluang kerja sama melalui pendampingan UMKM, kolaborasi riset, hingga program pendidikan pascasarjana berbasis penelitian.
Lebih lanjut, kegiatan tersebut turut memperkuat kepercayaan publik terhadap kemampuan riset nasional. Dengan demikian, inovasi berbasis sumber daya lokal dapat mendukung kemandirian ekonomi, memperkuat industri nasional, serta meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global. (j/*)










Komentar