Sisipublik.com – Pemberdayaan keluarga Sekolah Rakyat mulai mendapat perhatian melalui pengembangan usaha mikro bagi orang tua siswa dari keluarga prasejahtera. Kementerian Sosial bersama Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat mendorong integrasi bantuan sosial dengan program peningkatan kapasitas ekonomi agar keluarga dapat membangun kemandirian secara berkelanjutan.
Sebagai langkah awal, pemerintah melibatkan 100 ibu dan wali siswa Sekolah Rakyat se-Bandung Raya dalam pelatihan Langkah Aksi Kapasitas Sosial Mikro untuk Inklusi (LAKSMI). Kegiatan tersebut berlangsung di Bandung Creative Hub, Kota Bandung, Selasa (20/10/2026), melalui kolaborasi program pemberdayaan usaha mikro.
Pemberdayaan Keluarga Sekolah Rakyat Menyasar Kemandirian Ekonomi
Pemberdayaan keluarga Sekolah Rakyat menjadi salah satu peluang untuk memperluas manfaat program pendidikan bagi keluarga penerima manfaat. Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menyebut sekitar 44.000 siswa telah terjangkau program Sekolah Rakyat. Jumlah tersebut membuka potensi jangkauan pemberdayaan terhadap keluarga para siswa, dengan intervensi yang menyesuaikan kebutuhan masing-masing keluarga.
Menurut Gus Ipul, pemerintah perlu menghubungkan bantuan sosial dengan program yang mendorong peningkatan kemampuan ekonomi. Bantuan sosial berperan membantu keluarga memenuhi kebutuhan dasar, sedangkan pemberdayaan membuka peluang bagi mereka untuk meningkatkan pendapatan dan mencapai kemandirian.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antarkementerian dan lembaga. Sebab, program bantuan sosial dan pemberdayaan sering berjalan sendiri-sendiri sehingga pemerintah perlu memperkuat koordinasi agar keduanya saling mendukung.
Gus Ipul menyampaikan bahwa pembentukan Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat menjadi salah satu upaya pemerintah untuk memperkuat sinergi tersebut. Dengan koordinasi yang lebih terarah, pemerintah berharap keluarga penerima bantuan dapat mengakses program pemberdayaan sesuai dengan kondisi sosial dan ekonomi mereka.
Pelatihan Usaha Mikro Jadi Langkah Awal
Pelatihan LAKSMI di Bandung menjadi salah satu bentuk penerapan pendekatan tersebut. Melalui kegiatan ini, 100 ibu dan wali siswa Sekolah Rakyat memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kapasitas usaha mikro.
Pemerintah berharap para peserta dapat memanfaatkan pelatihan untuk memperkuat usaha, meningkatkan pendapatan, dan membangun sumber penghidupan yang lebih berkelanjutan. Selain itu, keberhasilan peserta diharapkan dapat menjadi contoh bagi keluarga lain di wilayahnya.
Gus Ipul menilai pendidikan anak perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan orang tua. Karena itu, pemerintah tidak hanya mendorong anak dari keluarga prasejahtera memperoleh akses pendidikan, tetapi juga berupaya menghubungkan keluarga mereka dengan dukungan sosial dan ekonomi lainnya.
Dukungan tersebut dapat mencakup akses terhadap rumah layak huni, jaminan kesehatan, serta program pemberdayaan sosial dan ekonomi. Dengan pendekatan terintegrasi, pemerintah berharap keluarga memiliki kesempatan lebih besar untuk memperbaiki taraf hidup.
Pemerintah Bidik 40 Ribu Wali Siswa Menjadi Pelaku Usaha
Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar menyatakan pemerintah ingin memperluas pemberdayaan ekonomi kepada wali siswa Sekolah Rakyat. Ia menargetkan sedikitnya 40.000 wali siswa dapat memperoleh dorongan untuk berkembang menjadi pelaku usaha.
Muhaimin memandang pelatihan bagi 100 orang tua siswa di Bandung sebagai rintisan percontohan atau pilot project. Pemerintah berharap model tersebut dapat membantu keluarga meningkatkan kemampuan ekonomi sekaligus mengurangi risiko kemiskinan antargenerasi.
Pendekatan ini menempatkan pendidikan anak dan kemandirian orang tua sebagai dua unsur yang saling melengkapi. Anak memperoleh kesempatan meningkatkan kualitas pendidikan, sedangkan orang tua mendapat dukungan untuk memperkuat penghasilan keluarga.
Namun, perluasan program tetap membutuhkan pendampingan usaha, penguatan keterampilan, dan akses terhadap peluang pasar. Dengan demikian, pelatihan tidak berhenti pada kegiatan awal, tetapi dapat mendorong perkembangan usaha peserta dalam jangka panjang.
Integrasi Program Menjadi Tantangan Berikutnya
Pelaksanaan pemberdayaan keluarga Sekolah Rakyat membutuhkan koordinasi yang berkelanjutan antara kementerian, pemerintah daerah, dan pihak pendukung usaha mikro. Kolaborasi tersebut penting untuk memastikan peserta memperoleh dukungan yang sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangan usahanya.
Pemerintah juga perlu melihat perkembangan usaha peserta setelah pelatihan, termasuk kemampuan mereka mempertahankan usaha, meningkatkan pendapatan, dan memperluas pasar. Langkah tersebut dapat membantu menilai sejauh mana program pemberdayaan memberikan dampak nyata bagi keluarga.
Melalui rintisan di Bandung, pemerintah mulai menghubungkan akses pendidikan dengan penguatan ekonomi keluarga. Jika pendampingan dan koordinasi berjalan konsisten, pendekatan ini berpotensi memperluas kesempatan keluarga prasejahtera untuk membangun kehidupan yang lebih mandiri.
Bagi keluarga siswa Sekolah Rakyat, keberhasilan program tidak hanya bergantung pada akses pendidikan anak, tetapi juga pada kemampuan orang tua mengembangkan sumber penghasilan yang berkelanjutan.











Komentar