Sisipublik.com – Ekspor Kopi Jabar kembali mencatat capaian positif di pasar internasional. Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Barat melepas pengiriman kopi asal Jawa Barat ke Mesir dengan nilai mencapai Rp4,6 miliar atau sekitar 172.200 dolar AS. Pelepasan ekspor berlangsung dalam rangkaian West Java International Industry and Trade Expo (WIITEX) 2026 di Summarecon Mall Bandung.
Selain itu, kegiatan tersebut mengusung tema The Golden Bean of Java: Coffee, Tea and Cacao for the Future. Pemerintah daerah memanfaatkan ajang tersebut untuk memperluas pasar produk unggulan Jawa Barat melalui berbagai program pendampingan dan promosi.
Ekspor Kopi Jabar tersebut berasal dari PT Zenit Indo Trade. Perusahaan itu sebelumnya mengikuti sesi pitching dan business matching dengan pembeli dari berbagai negara yang difasilitasi Disperindag Jawa Barat. Kepala Disperindag Jawa Barat, Nining Yuliastiani, menyebut pendampingan tersebut berhasil membuka peluang pasar baru bagi pelaku usaha daerah.
Menurut Nining, keberhasilan transaksi ke Mesir menunjukkan bahwa pembinaan yang berkelanjutan mampu meningkatkan daya saing produk lokal. Karena itu, pemerintah daerah terus memperluas akses pelaku usaha menuju pasar internasional.
Ekspor Kopi Jabar Di dukung Business Matching
Sebanyak 72 pelaku usaha kopi, teh, dan kakao mengikuti WIITEX 2026. Mereka memperoleh kesempatan bertemu langsung dengan calon pembeli dari berbagai negara setelah menjalani sesi business matching.
Selanjutnya, empat pelaku usaha di jadwalkan menandatangani nota kesepahaman dan kontrak dagang pada 14 Juni 2026. Kesepakatan tersebut mencakup komoditas kopi, teh, dan kakao.
Nining optimistis pameran internasional tersebut mampu menghasilkan tambahan transaksi ekspor. Ia menilai kopi, teh, dan kakao memiliki sejarah panjang serta daya saing tinggi sehingga mampu menarik minat pasar global.
Ekspor Kopi Jabar Perkuat Produk Unggulan Daerah
Jawa Barat memiliki posisi penting dalam industri perkebunan nasional. Sekitar 70 persen luas perkebunan teh Indonesia berada di wilayah tersebut. Kontribusinya bahkan mencapai sekitar 80 persen terhadap total produksi teh nasional.
Di sisi lain, permintaan dunia terhadap kopi, teh, dan kakao terus meningkat. Tren gaya hidup dan konsumsi minuman berbasis komoditas tersebut ikut mendorong kenaikan permintaan pasar.
Karena itu, pemerintah daerah mendorong hilirisasi produk. Upaya tersebut bertujuan menghasilkan produk bernilai tambah seperti specialty tea, specialty cacao, dan wellness tea yang semakin di minati konsumen internasional.
Nining juga menilai kondisi ekonomi global dan pelemahan rupiah dapat memberikan peluang bagi eksportir yang memanfaatkan sumber daya lokal. Sebab, biaya produksi menggunakan rupiah, sedangkan hasil ekspor memperoleh keuntungan dari nilai dolar AS.
Sistem Resi Gudang Di perkuat untuk Petani
Pada kesempatan yang sama, Disperindag Jawa Barat meluncurkan penguatan Sistem Resi Gudang (SRG). Program ini mendukung petani kopi, teh, dan kakao agar tidak menjual hasil panen ketika harga sedang rendah.
Melalui skema tersebut, petani dapat menyimpan komoditas di gudang terakreditasi. Selain itu, resi penyimpanan dapat menjadi jaminan untuk memperoleh pembiayaan dari perbankan.
Sementara itu, Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), Tirta Karma Senjaya, menilai WIITEX menjadi momentum penting bagi penguatan ekspor Jawa Barat. Menurutnya, Jawa Barat memberikan kontribusi besar terhadap ekspor nasional yang masih mencatat surplus perdagangan selama 68 bulan berturut-turut.
Ia juga menyebut Pakistan, India, China, dan sejumlah negara di Afrika sebagai pasar potensial berikutnya. Oleh sebab itu, peningkatan kualitas produk, penguatan sumber daya manusia, dan perluasan program business matching perlu terus di lakukan agar semakin banyak pelaku usaha daerah mampu menembus pasar internasional. (j/*)










Komentar